Wednesday, March 30, 2016

bikin gatel, tapi garuknya jangan bikin lecet kulit

Tuesday, March 15, 2016

http://store.steampowered.com/steamos/buildyourown

Build your own Steam Machine
SteamOS is our Linux-based operating system. The base system draws from Debian 8, code named Debian Jessie. Our work builds on top of the solid Debian core and optimizes it for a living room experience. Most of all, it is an open Linux platform that leaves you in full control. You can take charge of your system and install new software or content that you want.

Installing and Customizing SteamOS

What are the SteamOS Hardware Requirements?

Processor:
 
Intel or AMD 64-bit capable processor
 
Memory:
 
4GB or more RAM
 
Hard Drive:
 
200GB or larger disk
 
Video Card:
 
NVIDIA graphics card
AMD graphics card (RADEON 8500 and later)
Intel graphics
 
Additional:
 
USB port for installation
UEFI Firmware (recommended)
 

How do I install SteamOS?

There are two different installation methods for SteamOS. The recommended method is the Automated Installation method, which installs the default disk configuration. The Expert method uses Debian Installer, which allows for some customization after an automated install step. Please choose one of those methods below.
WARNING: Both installation methods will erase all content on the target computer

Automated Installation

  1. Download the SteamOS installation
  2. Unzip the SteamOS.zip file to a blank, FAT32-formatted USB stick. Make sure to use an MBR partition.
  3. Put the USB stick in your target machine. Boot your machine and tell the BIOS to boot off the stick. (usually something like F8, F11, or F12 will bring up the BIOS boot menu).
  4. Make sure you select the UEFI entry, it may look something like "UEFI: Patriot Memory PMAP". If there is no UEFI entry, you may need to enable UEFI support in your BIOS setup.
  5. Selected "Automated install (WILL ERASE DISK!)" from the menu.
  6. The rest of the installation is unattended and will repartition the drive and install SteamOS.
  7. After installation is complete, the system will reboot and automatically log on and install Steam. At this point an internet connection is required. If you have an internet connection, Steam will automatically install itself. If you do not have an internet connection (for instance, if you need to connect to a WiFi access point) you will get a popup telling you this. Close the popup and you will get the network configuration UI where you can set up your network. Once you are connected to the internet, close this UI and Steam will install itself.
  8. After Steam finishes installing, your system will automatically reboot and create a backup of the system partition.
  9. When the backup completes, select "reboot" to boot into your freshly installed SteamOS

Expert Installation

  1. Download the SteamOS installation
  2. Unzip the SteamOS.zip file to a blank, FAT32-formatted USB stick. Make sure to use an MBR partition.
  3. Put the USB stick in your target machine. Boot your machine and tell the BIOS to boot off the stick. (usually something like F8, F11, or F12 will bring up the BIOS boot menu).
  4. Make sure you select the UEFI entry, it may look something like "UEFI: Patriot Memory PMAP". If there is no UEFI entry, you may need to enable UEFI support in your BIOS setup.
  5. Selected "Expert install" from the menu.
  6. Selected your preferred language, location, and keyboard layout.
  7. You will have the option to change the default disk partitioning.
  8. The rest of the installation is unattended and will install SteamOS.
  9. After installation is complete, the system will reboot and automatically log on and install Steam. At this point an internet connection is required. If you have an internet connection, Steam will automatically install itself. If you do not have an internet connection (for instance, if you need to connect to a WiFi access point) you will get a popup telling you this. Close the popup and you will get the network configuration UI where you can set up your network. Once you are connected to the internet, close this UI and Steam will install itself.
  10. After Steam finishes installing, your system will automatically reboot and create a backup of the system partition.
  11. When the backup completes, select "reboot" to boot into your freshly installed SteamOS
http://store.steampowered.com/steamos/buildyourown

Friday, March 11, 2016

Dr. Andri Abdurochman, S.Si., M.T., “Suara Bacaan Al-Quran Miliki Efek Relaksasi Terbaik Turunkan Stres”


[Unpad.ac.id, 3/03/2016] Suara bukan sekadar bunyi yang keluar dari suatu instrumen. Dalam ilmu Fisika, suara merupakan gelombang mekanik yang merambat melalui udara. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu kajian dari Dr. Andri Abdurochman, S.Si., M.T., Dosen Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad.
Dr. Andri Abdurochman, S.Si., M.T. (Foto oleh: Dadan T.)*
Dr. Andri Abdurochman, S.Si., M.T. (Foto oleh: Dadan T.)*
Pada penelitian yang dilakukan, Dr. Andri bersama tim dari Laboratorium Fisika Instrumentasi (dahulu Instrumentasi Elektronika) mencoba melakukan identifikasi emosi manusia berdasarkan suara yang diucapkannya sejak 2006. Penelitian yang merupakanresearch grant Technological and Professional Skill Pevelopment sector project(TPSDP) Dikti tersebut dapat juga dimanfaatkan untuk menentukan bagaimana membedakan suara manusia yang diucapkan secara natural dengan suara yang dikeluarkan ketika melakukan peran (acting).
Dengan mengambil sampel suara beberapa individu, Dr. Andri dan tim kemudian melakukan ekstraksi untuk mengambil parameter-parameter suaranya. Parameter-parameter ini pula yang kemudian akan dipakai untuk menentukan bagaimana jenis emosi manusia dilihat dari suara yang dikeluarkan/diucapkan.
Dr. Andri pada awalnya merekam suara seseorang tanpa emosi, sebagai baseline. Hal ini untuk menentukan bagaimana parameter-parameter suara tanpa emosi tersebut. Setelah itu, dengan dibantu beberapa mahasiswa Fisika, Dr. Andri pun merekam suara ketika marah, sedih, hingga tertawa.
“Kami buat orang menjadi marah betulan dan mengeluarkan suara (berbicara). Kami rekam, kami ekstraksi, dan akhirnya kita tahu bagaimana distribusi parameter suara yang marah. Kemudian itu jadi database kita,” jelas Dr. Andri saat diwawancarai Humas Unpad beberapa waktu lalu.
Setelah memiliki database tersebut, Dr. Andri dan tim kemudian mengambil sampel kedua dengan merekam suara beberapa aktor peran dari beberapa film. Ia merekam suara aktor saat memerankan akting marah, sedih, serta tertawa. Suara ini kemudian diekstraksi dan diambil parameter suaranya.
Proses ekstraksi yang dilakukan adalah untuk menentukan intonasi dan frekuensi suaranya. Dr. Andri menjelaskan, frekuensi suara manusia biasanya hanya memiliki 5 oktaf. Setiap oktaf memiliki range tersendiri.
“Ketika orang marah, oktaf dalam suara akan naik, tetapi maksimalnya sampai 5 oktaf saja,” kata dosen kelahiran Bandung, 26 Mei 1974 tersebut.
Langkah selanjutnya, Dr. Andri membandingkan dua parameter suara dari sampel pertama dengan sampel kedua melalui software yang dikembangkannya di laboratorium. “Kita buat software dan diprogram untuk mengenali suara acting atau natural. Software tersebut hampir 90% mengetahui ini acting atau natural,” kata Dr. Andri.
Selain mengenali emosi, Dr. Andri juga tertarik untuk mengetahui efek gelombang suara pada tubuh manusia. Pada tahun 2007, ia membandingkan suara bacaan (murattal) Kitab Suci Al-Quran terhadap musik klasik dan musik terapi relaksasi untuk digunakan sebagai terapi menurunkan stres.
“Penelitian menunjukkan, suara bacaan Al-Quran memiliki tingkat relaksasi paling baik dibanding musik klasik atau musik relaksasi lainnya,” ungkapnya.
Hal ini dibuktikan melalui penelitian tahun 2010 yang dilakukannya terhadap beberapa naracoba anak-anak dan remaja usia sekolah (SD, SMP dan SMA) dari sebuah Yayasan di Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang. Untuk beberapa waktu, anak-anak ini diberikan musik yang bisa meningkatkan stres. Dr. Andri pun melakukan perekaman otak si anak untuk mengetahui bagaimana frekuensi gelombang otak yang ditimbulkan dari musik pembangkit stres itu.
Kemudian sang anak diberikan terapi mendengarkan bacaan Al-Quran selama tiga bulan, kemudian diperdengarkan kembali musik yang bisa meningkatkan stres. Hasilnya menunjukkan, daya tahan anak terhadap stres pada kesempatan kedua jauh lebih kuat daripada pada saat pemberian musik yang pertama jika dilihat dari rekaman gelombang otaknya.
“Anak yang sudah didengarkan suara bacaan (terapi) Al-Quran akan jauh lebih tenang dan lebih tahan terhadap stres,” simpulnya.
Adapun bacaan Al-Quran yang didengarkannya merupakan kumpulan ayat-ayat yang memiliki satu kata yang sama. Dr. Andri mencari kata di dalam Al-Quran yang bermakna positif lalu mengumpulkan bacaan (murattal) ayat-ayat tersebut.
Lulusan program Doktor di UniversitΓ© de Strasbourg, Perancis ini mengungkapkan, efek ini muncul karena relaksivitas yang dihasilkan akibat mendengar bacaan tersebut. Ini disebabkan setiap sel dalam otak manusia punya frekuensi alamiah masing-masing. Pada saat otak diberikan stimulus berupa suara, jika spektrum frekuensi suaranya itu adalah berbanding lurus dengan frekuensi natural sel, maka si sel akan beresonansi.
“Ketika resonansi itu, si sel kemudian bisa aktif atau memberikan sinyal ke kelenjar dalam tubuh untuk mengeluarkan hormon, karena si kelenjar kesehatan itu akan aktif hanya pada kondisi tertentu, misalnya tidur,” jelas Dr. Andri.
Pada saat mendengar bacaan Al-Quran, otak mengalami relaksasi yang baik sehingga seolah-seolah sedang berada dalam keadaan tidur. Pada kondisi tersebut, sel kemudian memberikan sinyal ke kelenjar dalam tubuh untuk mengeluarkan hormon. Kondisi inilah yang dialami oleh seseorang ketika melakukan terapi tersebut.
Lebih lanjut Dr. Andri menjelaskan, sesuatu yang dilakukan atau didengarkan berulang-ulang juga akan memiliki efek hipnosis. Berdasarkan kemampuan peningkatan daya tahan naracoba karena bacaan Al-Quran, ia juga dalam penelitian pada bidang komunikasi kedokteran gigi. Pada penelitian tersebut, Dr. Andri berperan dalam pengolahan data frekuensi dan spektrum suara pada saat kata-kata hipnosis tersebut disampaikan kepada naracoba, serta respon otak (rekaman elecro-encephalogram) terhadap hipnosis.*

Sumber : unpad.ac.id

Tuesday, March 8, 2016

Istana (BACA : Jubir Presiden) : Pemboikotan untuk Kebijakan Israel bukan Produk Barang

Istana: Pemboikotan untuk Kebijakan Israel bukan Produk Barang

Desi Angriani - 08 Maret 2016 15:00 WIB
Juru Bicara Presiden, Johan Budi. Foto: Antara/Yudhi Mahatma
Juru Bicara Presiden, Johan Budi. Foto: Antara/Yudhi Mahatma

Metrotvnews.com, Jakarta: Juru Bicara Presiden Johan Budi menjelaskan soal seruan Presiden Joko Widodo terkait pemboikotan produk Israel yang dilontarkan pada penutupan Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam (OKI), kemarin. Menurut Johan, pemboikotan itu ditekankan untuk kebijakan yang diterbitkan pemerintah Israel, bukan produk barang. 


"Sebenarnya gini, yang dimaksud itu bukan produk barang tapi produk kebijakan," ujar Johan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (8/3/2016).



Johan menjelaskan, produk kebijakan tersebut berupa larangan-larangan Israel di wilayah pendudukan Palestina, seperti larangan memasuki Al-Aqsha.


Johan menyayangkan publik menyalahartikan pemboikotan yang dimaksud Presiden.



"Ya, segala sesuatu yang dilakukan Israel di tanah pendudukan Palestina, kan ada banyak larangan gitu kan. Jadi sekarang melebar ke mana-mana, seolah-olah boikot produk," tutur mantan Plt Ketua KPK ini.



Namun demikian, dia belum bisa memastikan apakah pemboikotan tersebut juga masuk ke ranah produk-produk barang milik Israel.



"Apakah itu nanti dalam bentuk barang saya enggak tahu, tapi maksudnya itu kebijakan Israel terhadap Palestina," tandasnya.



Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir menyebut Presiden Joko Widodo menyerukan larangan masuknya produk Israel ke negara-negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI) pada penutupan KTT LB OKI 2016 di Jakarta.



"Intinya, bahwa produk-produk yang diproduksi di wilayah settlement illegal diserukan untuk diboikot oleh negara-negara Islam sebagai bentuk dukungan untuk Palestina," ungkapnya di Jakarta Convention Center (JCC), Senin 7 Maret.



Arrmanatha tidak tahu persis apa saja produk-produk Israel yang diboikot, namun ia mengatakan ada produk pertanian.



"Bisa saja dibeli dari pihak ketiga. Bisa saja bagian ini diambil dari sana untuk dibikin di negara ketiga. Kita tidak tahu juga apa yang ada di situ secara detail," imbuh dia.



KTT LB OKI ke-5 ini diikuti oleh 57 negara anggota OKI. Sementara 605 delegasi turut hadir dalam pertemuan tersebut. Konferensi ini ditujukan untuk memperkuat kembali komitmen mendukung kemerdekaan Palestina.



Selain itu, konferensi tersebut juga membahas situasi Al-Quds Al-Sharif. Mengingat isu-isu ini sudah tertutup dengan masalah seperti Suriah dan ISIS.



KRI

Sumber : metrotvnews

Tuesday, March 1, 2016

Mengkaji ‘Reinterpretasi’ Quran Soal Homoseksual



Keharaman homoseksual, sudah final disepakati seluruh ulama berdasarkan dalil Qur’an dan Sunnah. Ibnu Hazm tegas menyatakan siapa yang menghalalkannnya, ia terjatuh dalam kekafiran dan musyrik
SALAH satu isu besar gagasan liberilisasi agama adalah seruan perlunya penafsiran ulang alias reinterpretasi al-Qur’an. Terutama agar sesuai dengan prinsip hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai demokrasi (Syamsuddin Arif: 2008:148). Termasuk dalam konteks ini upaya reinterpretasi Kitab Suci agar ramah terhadap perilaku LGBT (baca: homoseksual).
Kini, di Indonesia pun mulai muncul, aneka penafsiran ulang (reinterporetasi) terhadap al-Quran, khususnya ayat-ayat tentang kisah Nabi Luth. (Lihat, misalnya, artikel berjudul “Islam, LGBT dan Perkawinan Sejenis” Oleh Mun’im Sirry https://www.inspirasi.co/post/detail/5806/munim-sirry-menafsir-kisah-nabi-luth-secara-berbeda).
Dalam tulisannya, Mun’im melakukan tafsir, seolah hukum Islam bisa menerima perkawinan sejenis. Tujuannya ‘liberalisasi kisah Luth’ adalah satu, yaitu membiarkan dan melegalkan perkawinan sejenis atau perkawinan homoseksual. Dibuatlah analisis, seolah-olah, ummat Nabi Luth bukan diazab sebab mereka homoseks, tapi karena mereka mengingkari kerasulan dan tidak sopan pada para tamunya. Karena itu, perilaku homoseksual boleh-boleh saja. Sejatinya, tafsir demikian pada kisah Luth bahkan sudah lama menjadi narasi yang digaungkan di penyuluhan yang mengampanyekan hak seksual kaum LGBT dengan topeng edukasi HIV/AIDS.
Tulisan kalangan liberal itu juga mendapat kritik dari A. Wafi Muhaimin, dengan mengatakan, kalangan liberal “tidak jujur” dalam menukil al-Qur’an. Mereka hanya sepotong-sepotong mengambil Al-Quran sesuai dengan selera “kepentingan”, hanya karena kasihan pada pelaku LGBT.
Sebenarnya, wacana bahwa umat Luth diazab Tuhan bukan karena orientasi homoseksual, bukan barang baru. Hal ini sudah didiskusikan oleh ulama-ulama mazhab Maliki dalam diskursus tafsir klasik. Misalnya, dalam kitab tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Imam al-Qurthubi, dan tafsir Ahkam al-Qur’an karya Imam Ibnul ‘Arabi. Tetapi, para ulama Islam sepakat bulat, bahwa homoseksual adalah kejahatan. Di dalam kedua tafsir bercorak hukum itu disebutkan bahwa Imam Malik mengajukan pendapat hukuman rajam bagi pelaku homoseksual yang beristeri (muhshan) dengan dalil Q.s. al-Hijr ayat 74 yang menggambarkan bahwa kaum Luth dihujani batu dari neraka sijjil.
Sebagian ulama tidak sepakat dengan istinbat hukum Imam Malik dari ayat tersebut. Alasan sebagian ulama itu adalah adanya kemungkinan muncul gugatan bahwa kaum Luth diazab sebab pengingkaran atas kerasulan, bukan karena perilaku homoseksualnya. Jadi apa yang kini disuarakan kaum liberal, sudah dipikirkan oleh ulama berabad silam. Tetapi, para ulama tetap memahami bahwa perilaku homoseksual itu adalah fahisyah, kejahatan yang keji.
Meski demikian, Imam al-Qurthubi dan Ibnul ‘Arabi yang bermazhab Maliki membela pendapat Imam Malik dan menolak alur berfikir sebagian ulama yang tidak setuju itinbat hukum Imam Malik. Al-Qurthubi (2003: VII/234) menegaskan, “Jika ada yang menyatakan siksa kaum Luth hanya disebabkan kekufuran dan mengingkari rasul seperti umat yang lain, maka pendapat itu salah. Sebab Allah telah menjelaskan bahwa mereka disiksa sebab berbagai macam maksiat yang mereka lakukan. Di antara maksiat-maksiat itu adalah perbuatan homoseksual.”
Bantahan al-Qurthubi itu sangat beralasan. Sebab, meski al-Qur’an menyebutkan maksiat lainnya yang dilakukan umat Luth (baca Qs. Al-Ankabut: 29), tapi secara khusus perilaku homoseksual mereka disebutkan secara khusus sebagai perbuatan keji (fahisyah). Tidak mungkin celaan khusus itu tidak berimplikasi hukum apa-apa. Di dalam ushul fikih sendiri telah dimaklumi bahwa larangan Allah tidak selamanya dengan redaksi eksplisit nahy seperti: jangan kamu berbuat ini dan itu! Bentuk larangan (nahy) bisa berupa deskripsi betapa buruk dan berbahayanya perbuatan itu ditinjau dari segala segi.
Ibnu Hazm
Selain persoalan tafsir baru liberal yang ternyata usang dan telah dibantah oleh mufassir terkemuka, ada persoalan lain yaitu pencatutan nama Ibnu Hazm, ulama terkemuka penulis kitab fikih babon, al-Muhalla. Ibnu Hazm memang punya pendapat berbeda tentang bentuk hukuman terhadap pelaku homoseksual. Tapi Ibnu Hazm dan para ulama otoritatif lainnya tetap menegaskan keharaman homoseksual.
Ibnu Hazm yang dikutip pendapatnya untuk melegalkan perkawinan sejenis, berpendapat bahwa hukuman atas pelaku homoseksual adalah hukuman ta’zir, bukan rajam. Itu artinya, bentuk hukuman diserahkan kepada kebijakan penguasa. Soal keharaman homoseksual, sudah final disepakati oleh seluruh ulama berdasarkan dalil Qur’an dan Sunnah. Ibnu Hazm tegas menyatakan bahwa sesiapa yang menghalalkannnya maka bisa terjatuh ke dalam kekafiran, musyrik dan halal darah juga hartanya (lihat Masa’il Ta’zir wa Ma la Hadda fiihi; Mas’alat Fi’l Qawm Luth dalam al-Muhalla, vol.12).
Ibnu Hazm hanya memaparkan bahwa perbedaan pendapat ulama terletak pada bentuk hukumannya, sama seperti diskusi yang dipaparkan oleh Imam al-Qurthubi dan Ibnul ‘Arabi. Persoalannya lebih kepada perbedaan pendapat soal hukuman takzir atau hadd, bukan soal keharamannya.
Bahkan, dalam satu tulisan, seorang aktivis liberal menulis, bahwa kaum Luth hanya melakukan sodomi kepada para pelancong dari luar kota, dan sebab perlakuan itupun tidak jelas. Pendapat ini pun tidak berdasar dan hanya merupakan asumsi. Al-Qur’an tidak memberikan penjelasan detail tentang kisah Luth. Misalnya, tidak disebutkan apakah kaum Luth melakukan homoseksual hanya dengan pendatang dari luar kota ataukah juga dengan sesama mereka.
Tetapi, al-Qur’an bahkan sudah menyatakan, “Sebelum itu (kedatangan pelancong dari luar) mereka sudah aktif melakukan keburukan-keburukan” (Q.s. Hud: 78, lihat Dr. Abdul Karim Zaydan, al-Mustafad min Qashash al-Qur’an, vol.1, hlm.231).
Keterangan lanjut dari al-Qur’an justru memberikan alasan utama mereka melakukan aktifitas kotor tersebut. Bukan dengan narasi deskriptif, tetapi petunjuk dalam surah al-A’raf ayat 81 dan an-Naml ayat 55 memilih satu redaksi yang berbunyi ‘syahwatan’ yang dalam bahasa Arab berkedudukan sebagai maf’ul li ajlihi yakni objek perbuatan dilakukan karena alasan ini. Kedudukan bahasa tersebut menunjukkan bahwa syahwat adalah motif utama tindakan homoseksual kaum Luth.
Kata syahwat dalam al-Qur’an berarti dorongan kuat dalam hati manusia untuk mencapai sesuatu. Demikian ditulis seorang pakar bahasa al-Qur’an Al-Raghib al-Asfahani dalam bukunya Mufradat Alfazh al-Qur’an.
Syahwat ada dua macam, yang benar (dibutuhkan oleh fisik manusia) seperti syahwat makan ketika lapar, dan yang dusta yaitu yang sama sekali tidak mengancam fisik manusia dan cenderung mengikuti nafsu jahat seperti disinggung dalam surah Maryam ayat 59 (1997: hlm.468-469). Dalam tinjauan modern, kaum Luth itu melakukan tindakan homoseksual sebagai pelampiasan dari kecenderungan same sex attraction mereka. Artinya, kaum Luth melakukannya karena mereka tidak lagi mau mengendalikan hawa nafsu mereka.
Seperti biasa, kaum liberal dengan berbagai cara mencoba menghalalkan perbuatan fahisyahyang jelas dilarang oleh Allah ta’ala.
Baca: FAHISYAH
Dengan trik yang halus, pendapat ulama muktabar kerap dipelintir atau melakukan reinterpretasi yang dipaksakan untuk memuluskan setting agenda global dalam konteks legalisasi perkawinan sejenis. Namun jika diperhatikan, semua itu bukanlah usaha yang tulus untuk mencapai pemahaman yang benar dari al-Qur’an atau hadis. Sayangnya, ada saja diantara kaum homoseksual yang kemudian merujuk kepada reinterpretasi kaum liberal.
Dalam soal penyeleweangan Tafsir al-Quran, Allah telah menunjukkan bagaimana Iblis pun telah melakukannya. QS al-A’raf ayat 20 menjelaskan, bahwa Iblis melakukan penafsiran semena-mena – sesuai kehendaknya — terhadap larangan Allah agar Adam menjauhi Pohon itu. Lalu, Iblis membuat tafsiran, ‘Tuhan melarang kalian berdua (Adam dan Hawa), karena kalian bisa jadi malaikat atau jadi makhluk yang kekal abadi’.
Bahkan, untuk meyakinkan Adam dan Hawa, Iblis sampai bersumpah bahwa ia adalah pemberi nasihat yang jujur. Kala itu Adam dan isterinya terpedaya akibat tafsir sesat berbungkus nasehat ala Iblis. Tentu kita sebagai keturunan Adam tidak ingin terperosok ke dalam jurang yang sama. Wallahu a’lam. *
Penulis Lulusan S-2 Ilmu Tafsir, Universitas al-Azhar Kairo

sumber : hidayatullah.com
memenya dari fbnya Rendy