Tuesday, January 27, 2015

Everything You Need To Know About Gaza

Everything You Need To Know About Gaza

by Yvonne Ridley

1. Palestinians lost most of their land

.

Recipe Garang Asem

Garang Asem

Bahan

- 1/2 kg daging ayam potong kecil +- 2cm
- 5 buah tomat uk sedang atau blimbing wuluh iris
- 5 siung bawang merah iris tipis
- 5 cabe besar iris tipis
- 1 telur ayam
- daun salam
- lengkuas iris tipis n geprek
- garam n gula pasir secukupnya
- daun pisang u membungkus
- lidi atau tusuk gigo atau steples bumbu yang dihalus :
- 4 bawang putih uk besar n jahe secukupnya (2-3 cm)

Cara membuat :

1. campur ayam, bumbu halus, tomat, bawang merah, cabe besar iris, garam , gula pasir, telur yang sudah dikocok lepas dan diberi air sesuai selera. ( sy suka kuah banyak) 

2. ambil daun, beri 1 daun salam, geprekan lengkuas, cabe rawit, ayam irisan tomat dan diberi kuah. bungkus dan semat lidi atau streples

3. kukus dengan api sedang sampai matang ( daun layu coklat)

* kuah bisa ditambah santan




Sunday, January 25, 2015

Ciplukan

Sore-sore ujan-ujanan sama faiha ternyata nemu Ciplukan yang udah berbuah dan matang ya sudah sekalian aja kita panen.

Kalo liat ciplukan inget salah satu episode acaranya Chef Bara yg make Ciplukan yg di impor dari Kolombia.. lupa namanya buah apa kalo di luar sana.

Pas nanya gugel ternyata salah satu jenis Ciplukan udah di komersialkan yakni yang asalnya dari Peru (Phisalys Peruviana) dari abad ke 18. Lama banget yak... hehehe..

Kalo di Indonesia, Ciplukan lebih dikenal sebagai tanaman Obat untuk Diabetes Mellitus. Itupun masih jarang yang membudidayakannya.

Secara umum Ciplukan emang bukan buah yg biasa dikonsumsi kalo di Indonesia dan saya yakin banyak anak kota yang ga kenal ini buah :)

Terakhir, ada yang ngerti ga ini apaan?



Friday, January 23, 2015

Salah PKS



salah PeKaEs wkekwkwkw

#SaveKPK #SavePolri #SaveJokowi
Leave aside being able to tolerate the sound
of the call to prayer, European capitals,
which are the fortresses of modern
civilization, haven’t even been able to
resolve the debate on minarets
Akif Emre
It was a balmy spring evening… That
evening marked my first visit to Granada.
The Alhambra was opposite me as the sun
set in Mirador San Nicolas… The coral red
of the setting sun lit up the Alhambra. A
red sun was sinking below the horizon.
The walls of the Alhambra were covered
in a dark red as the last rays of sunlight
fell upon them.
I felt two types of melancholy combined
into one as I stood on a hill in Granada
from where the best view of the Alhambra
is available. We were looking at the
Alhambra from the place that gets its
name from the San Nicolas Church.
Anyone who pays careful attention to the
church will feel like it is whispering “I
used to be a mosque once upon a time.”
Standing atop the tallest hill in Granada’s
historic quarter of Albayzin, and rising
amidst the Carmen-type houses unique to
Andalusia with gardens and courtyards,
the bell tower maintains its resemblance
to a classic Andalusia-Maghreb type
minaret. A bell was attached to it by
making a minor change…
As the last rays of sunlight faded slowly
from the snowcapped peaks of the Sierra
Nevada mountain range that lie beyond
the Alhambra, I was literally startled out
of the depths of the historical wanderings
my mind had embarked on by a voice. A
chant of “Allahu akbar, Allahu akbar”…
It was like a cry rising from the depths of
history instead of a mechanical sound
emanating from loudspeakers. I suddenly
became alert and listened to the voice…
yes; it was the call to prayer coming from
somewhere very close by.
It was evening and the Muslim call to
prayer was being issued…
A Muslim Spanish friend, Davud Romero,
noticed my surprise, and as if revealing a
previously untold secret, said, “The
mosque is right here. Let us pray there”…
I launched myself in the direction where
the call to prayer was emanating from,
and one street ahead, found myself in
front of the mosque.
I had come here to attend a conference
regarding the Moriscos, who are Muslim
people forced to convert to Christianity
and who were forced to conceal their
Muslim identity long after Granada, the
last pearl of Andalusia had fallen.
Around a million Moriscos were driven
out of their homeland between 1609 and
1612. And for the first time in the history
of modern Spain, a scientific conference
was being held at Granada University to
mark the 500th year of the dispersal. I
was attending along with Burhan Köroğlu,
who is pursuing this topic.
It was as if I was transported to an
unimaginable world where the weight
was lifted off my shoulders and a
lightness took hold of me when the call to
prayer suddenly rose loudly and the
Granada Mosque appeared like an oasis.
It felt like the rediscovery of a lost
heritage when I saw the blueness of the
night and the lights of the Alhambra from
the courtyard facing the Alhambra after
performing my prayer.
The mosque has an interesting story.
Debate ensued in Granada when the
foundations of a mosque were discovered
during excavations. The land was
purchased through an initiative by
Muslims to build a mosque there that
would stay true to the original. But civic
society and the municipality were pitted
against each other. Contrary to what is
believed, the segment of society that
opposed the construction of a mosque
protested vociferously. After a lengthy
struggle, the first call to prayer was made
in Andalusia in 2003, almost 500 years
after the fall of Granada.
The stubborn resistance will increase to
protect the legacy of building a one-
dimensional society that began during the
formation of modern Europe, in the early
modern period, when Muslims and Jews
were driven out and their books burned.
It will take a long time until the Muslim
call to prayer is accepted in Granada.
Being in the most fervent Catholic country
in Europe will undoubtedly have an
impact as well.
It will be even more difficult to see this
acceptance in countries like the United
Kingdom, which is more multicultural and
relatively more liberal, and France, which
considers the principles of equality,
fraternity and liberty as existential ones.
Leave aside being able to tolerate the
sound of the call to prayer, European
capitals, which are the fortresses of
modern civilization, haven’t even been
able to resolve the debate on minarets.
Leave aside the citing of the perception
that a minaret symbolizes Islam’s victory
over Europe; involvement even extends
to mosque architecture and interior
decorations. Even if permission is granted
to build a mosque, the architecture has to
conform to the values of western culture
and aesthetics!
The connection created between mosque
architecture and European values, and the
coercion carried out in this regard
actually provides clues to discussions on
“European Islam” and the creation of a
new type of Islam, which is modernized
and compatible with European values.
Memperkuat Instrumen Wakaf
Dr Irfan Syauqi Beik Ketua Prodi Ekonomi
Syariah FEM IPB Salah satu instrumen
ekonomi syariah yang perlu mendapat
perhatian dan harus dikem - bang kan ke
depan adalah wa kaf. Wakaf merupakan
instrumen ke - uang an sosial syariah
yang selama ini belum tergarap dengan
baik, mes - kipun beberapa institusi,
terutama institusi pendidikan, telah
memberi - kan contoh bagaimana mereka
bisa mengembangkan diri dengan wakaf.
Di Indonesia, Pondok Modern Gontor dan
UII Yogyakarta adalah contoh lem baga
pendidikan yang mampu ber tahan dan
memberikan kontribusi signifikan bagi
umat dan bangsa me - lalui wakaf.
Demikian pula Uni ver - sitas Al Azhar
Mesir yang bertahan lebih dari 10 abad
dengan mengan- dalkan pengelolaan
wakaf sebagai ujung tombak pendanaan
dan pem- biayaannya. Sebagai instrumen
yang memiliki potensi ekonomi yang
besar, sudah saatnya bangsa Indonesia
meman- faatkan wakaf ini semaksimal
mung - kin. Apalagi hal ini diperkuat oleh
keberadaan UU No 41/2004 tentang
Wakaf, yang memberikan landasan
yuridis dan hukum yang kuat bagi
pengembangan wakaf ke depan, baik
wakaf berupa aset tetap seperti ge - dung
dan tanah, maupun wakaf be - rupa uang.
Badan Wakaf Indonesia (BWI), sebagai
institusi yang mendapat mandat untuk
mengembangkan wakaf, perlu diperkuat
dan didorong agar bisa berperan lebih
signifikan da lam mengambil inisiatif dan
lang - kah-langkah strategis dalam upaya
optimalisasi instrumen wakaf. Kita pun
sebagai bangsa dapat pula belajar dari
negara-negara lain seperti Singapura,
yang terbukti mam pu memodernisasi
pengelolaan wa kaf sehingga aset-aset
wakaf yang memiliki nilai ekonomis dan
sosial yang tinggi. Agar instrumen ini
dapat dioptimalkan bagi sebesar-besarnya
kesejahteraan masyarakat, maka pa - ling
tidak, ada tiga langkah strategis yang
harus dilakukan oleh BWI dan para
pemangku kepentingan (sta - keholder)
perwakafan nasional. Pertama, perlunya
penguatan edukasi masyarakat tentang
wakaf. Hal ini sangat penting dilakukan
ka - re na persepsi masyarakat tentang
wa kaf masih sangat tradisional. Ma - sih
banyak warga masyarakat yang hanya
berpikir bahwa harta yang bisa
diwakafkan hanyalah aset tetap be - rupa
tanah dan gedung dengan per - un tukan
yang sangat terbatas. Mi - salnya, untuk
pemakaman dan mas - jid. Belum
terpikirkan untuk mem- produktifkan
wakaf secara ekonomis. Untuk itu,
sosialiasi dan edukasi ini menjadi faktor
penting yang dapat membangkitkan
kesadaran masyara - kat akan pentingnya
wakaf. Selain itu, harus ada keberanian
yang bersifat ijtihadiuntuk melaku - kan
terobosan dan inovasi dalam pe -
manfaatan wakaf tanpa harus me - lang
gar aspek syariah. Misalnya ba - gai mana
mengembangkan wakaf uang sebagai
sumber pembiayaan yang bersifat
tijaarisehingga mem- berikan keuntungan
ekonomis yang bisa dipakai untuk
kepentingan sosial umat. Hal ini
sebagaimana yang telah dicontohkan oleh
kekhilafahan Turki Us mani yang mampu
berkuasa sela - ma enam abad dengan
ditopang oleh instrumen wakaf uang.
Uang wakaf pada masa itu, sebagaimana
studi Cizakca (2004), didayagunakan
secara produktif melalui pembiayaan
mura - bahah dan mudharabah yang
disalur - kan pada masyarakat, sehingga
bi sa berkembang dan memberikan dam -
pak multiplier terhadap pereko no - mian.
Di satu sisi, banyak masyarakat yang
terbantu bsinisnya karena men- dapat
pembiayaan, sedangkan di sisi lain,
keuntungan yang didapat dari pembiayaan
tersebut digunakan untuk kepentingan
sosial masyarakat. Kedua, perlunya
penataan kelem- bagaan melalui
penguatan institusi dan SDM nadzir yang
ada. Ini sangat krusial karena kualitas
lembaga dan SDM ini sangat menentukan
wajah perwakafan nasional. Untuk itu,
seba- gaimana yang saat ini tengah diusa-
hakan pada sektor zakat, sektor wakaf ini
memerlukan prinsip-prinsip pengelolaan
modern yang sistematis dan terencana
dengan baik. Dalam konteks inilah maka
gagasan adanya waqf core principles
(WCP)menjadi sangat penting. WCP ini
dapat dijadikan sebagai referensi standar
pengelolaan wakaf yang baik dan modern.
Dalam WCP ini harus diatur aspek tata
kelola atau waqf governance yang efektif
dan se - suai syariah. Dengan posisi wakaf
saat ini yang secara resmi telah dijadikan
sebagai bagian dari indika- tor tingkat
kesehatan sistim keuan- gan syariah di
suatu negara oleh IRTI ? IDB, maka
adanya waqf governance yang
terstandarisasi secara global sangat
diperlukan. Penulis berharap bahwa
model kerjasama BAZNAS, Bank Indonesia
dan IDB dalam me - ngembangkan zakat
core principles yang melibatkan tujuh
negara lain - nya, dapat diduplikasi pada
sektor wakaf. Untuk itu, penulis sangat
men- dorong terealisasikannya model
kolaborasi serupa antara BWI, BI dan IDB.
Jika ini dapat dilakukan, penulis yakin
bahwa zakat dan wakaf akan menjadi
\"duet maut\" yang akan men- gakselerasi
perekonomian bangsa. Ketiga, penguatan
dukungan pe - me rintah. Dukungan ini
antara lain be rupa dukungan anggaran
dan atur - an-aturan yang mendukung
pengem- bangan wakaf. Yang juga perlu
dipi - kir kan adalah bagaimana
pemerintah mendorong integrasi wakaf
dengan instrumen lain seperti sukuk.
Waqf- based sukukdapat digunakan seba -
gai jalan untuk memproduktifkan aset
wakaf yang ada. Skema sukuk al-intifa\'Zamzam Tower di Mekkah bisa menjadi
salah satu sumber referensi integrasi aset
wakaf dan sukuk. Melalui upaya penguatan yang dilakukan secara sistematis
dan kontinyu, wakaf ke depan diharapkan
dapat menjadi instrumen domestik yang dapat diandalkan untuk meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Wallahu a'lam.
e-Paper Republika 2015

Sunday, January 18, 2015

Tertipu

Pas mau kehujanan tadi habis dari kemuning Karanganyar, mampirlah daku ke warung lesehan di daerah botok Sragen, liat di menu ada Teh Poci... Langsung aja pesen.... Bayangan saya itu enak teh model Kulonan dengan gula batu dan Poci tanah liat.... Lha dala datengnya kok... Gini....





Tertipu saya.... Teh Poci tapi tehnya teh celup.....

Thursday, January 15, 2015

Gara Gara SPAN



Sabar ya om Edi :)

Berdoa Dalam Amplop


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Terhenyak saya.Suatu pagi saya menghadiri sebuah acara. Ada hal yang mengejutkan saya dari penyelenggara. Salah seorang di antara mereka berbicara penuh semangat kepada peserta, perkataan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya dari orang-orang shalih. Tidak pula saya dengar dari kakek nenek saya yang saya kenal bertekun-tekun mendalami agama. Saya justru mendapati apa yang mereka katakan itu pada agama lain. Tak terkecuali darimereka yang berakrab-akrab dengan New Age Movement dengan segala cabang maupun rinciannya.

Sejenak saya terdiam sembari merenung, adakah ini yang dimaksud dalam hadis Nabi shallaLlahu 'alahi wa sallam? Sesungguhnya beliau telah bersabda:

ﺳَﻴَﻜُﻮْﻥُ ﻓِـﻲْ ﺁﺧِﺮِ ﺃُﻣَّﺘِﻲْ ﺃُﻧَﺎﺱٌ ﻳُﺤَﺪِّﺛُﻮْﻧَﻜُﻢْ ﻣَـﺎ ﻟَـﻢْ ﺗَﺴْﻤَﻌُﻮْﺍ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻭَﻻَ ﺁﺑَﺎﺅُﻛُﻢْ ، ﻓَﺈِﻳَّﺎﻛُﻢْﻭَﺇِﻳَّﺎﻫُﻢْ

“Pada akhir zaman akan ada kaum yang berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar dan tidak pula pernah didengar nenek moyang kalian. Maka hati-hatilah terhadap mereka.” (HR. Muslim,Ibnu Hibban & Al-Hakim).

Tetapi..., perkataan apakah yang merisaukan saya itu? Do'a. Mereka mengobarkan semangat untuk berdo'a, tetapi dengan cara yang sangat asing dan tidak pernah saya dapati tuntunannya di dalam agama ini. Salah seorang berkata: "Yang mau segera dapat jodoh, yang mau kaya raya, yang mau segera punya mobil.... Apa saja. Mudah. Semua ada caranya. Biar do'a lebih cepat terkabul, juga ada caranya. Pokoknya yakin dah Allah Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Mengabulkan Do'a. Minta saja sama Allah. Bagaimana caranya biar semua keinginan kita dikabulkan sama Allah? Bagaimana agar Allah kabulkan persis seperti yang kita minta? Mudah..... Tuliskan do'a Anda dengan rinci. Tulislah dengan lengkap, selengkap-lengkapnya. Apa saja. Mau mobil, kalau perlu warnanya apa, mereknya apa. Tuliskan di amplop. Makin lengkap makin baek."Ia kemudian melanjutkan perkataannya: "Kalau mau mobil, bayangkan dengan jelas, mobil apa yang Anda inginkan. Gambarkan dengan detail biar jelas. Kalau perlu lihat fotonya. Cari brosurnya. Masukin sekalian di amplop. Nah, kalau sudah dimasukin amplop, terus ngapain? Bawa ke Ka'bah. Umrah ke sana dan bawa amplop itu. Pegangi amplopnya. Do'a yang sungguh-sungguh sama Allah. Bilang sama Allah, 'Ya Allah, penuhi semua keinginanku, kabulkan semua permintaanku yang di dalam amplop ini. Kalau sempet bacain akan lebih baik.' Habis itu taruh di sana. Yakinlah, segala yang kita inginkan akan segera dikabulin sama Allah."

Bagaimana jika seseorang tidak sempat atau tidak mampu umrah? Ada solusinya, yakni menitipkan kepada orang yang mau umrah. Bisa kepada "ustadz" yang mau ke sana. Ia juga mengajarkan triknya agar do'a dikabulkan lebih cepat dengan berbagai teknik amalan. Dan sekali lagi, saya tidak pernah menjumpai tuntunannya dari salafush-shalih. Tidak juga saya menjumpai nash shahih tentang itu. Yang saya dapati justru sebaliknya, praktek dari agama lain. Ada beberapa syubhat dalam berbagai ucapan tersebut. Dua di antaranya adalah, pertama, pernyataan yang menunjukkan seakan ada mekanisme yang menjadikan sebuah do'a secara pasti akan lebih mudah dikabulkan, lebih cepat dan dapat dipercepat lagi dengan berbagai hal justru bertentangan keras dengan tuntunan agar ada khauf dan raja' (cemas dan harap) dalam berdo'a. Ini meniadakan sikap tadharru' di hadapan Allah Ta'ala. Dan sesungguhnya, sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Kedua, cara-cara yang diajarkan sama sekali tidak terdapat dalam Islam. Padahal jika mereka meminta kepada Allah Ta'ala, maka tak ada yang lebih patut untuk diikuti melebihi tata-cara yang langsung dituntunkan oleh Allah Ta'ala dalam Al-Qur'anul Kariim serta dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam di dalam As-Sunnah Ash-Shahihah . Bagaimana mungkin engkau meminta kepada Allah Ta'ala, tetapi mencampakkan cara yang telah ditetapkan-Nya? Bagaimana mungkin engkau berdo'a dengan mengambil keumuman makna "berdo'alah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagimu", tetapi rincian caranya engkau ambil dari agama lain? Sesungguhnya merinci-rinci do'a merupakan perbuatan  melampaui batas sebagaimana kita dapat dalam hadis dari Abu Nu'amah. Begitu pula  visualisasi do'a, sangat tercela menurut Islam. Sementara menuliskan keinginan dengan  rinci dan menyerahkan (meletakkan) di Baitullah, baik dengan membacakannya maupun tidak, merupakan tindakan menyerupai (tasyabbuh) sebagian Nasrani serta Yahudi. Cara berdo'a seperti inilah yang kita jumpai pada peribadatan orang Yahudi dan Nasrani di Tembok Ratapan yang mereka yakini sebagai tempat suci. Maka apakah engkau akan berdo'a dengan cara mereka? Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah tegas larangan tasyabbuh . Lebih-lebih dalam soal yang berkait dengan 'ibadah. Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka .” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻐَﻴْﺮِﻧَﺎ

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.”(HR. Tirmidzi).

Apakah setiap yang menyerupai orang kafir mutlak haramnya? Tidak! Yangdilarang keras dan karena itu terjatuh ke dalam maksud hadis ini adalah menyerupai dalam perkara-perkara yang merupakan kekhasan orang kafir, meskipun itu hanya soal cara berpakaian atau kegiatan yang tidak terkait dengan 'ibadah. Adapun dalam masalah 'ibadah, jangankan menyerupai orang kafir dan menirunya sehingga nyaris tak berbeda dengan mereka, melakukan ritual yang tidak jelas tuntunannya pun harus kita jauhi. Apalagi jika ritual itu nyata-nyata bertentangan dengan nash yang shahih dan berasal dari agama lain, maka tidak ada tempat sama sekali dalam agama ini. Melakukan praktek 'ibadah yang bertentangan dengan islam dan nyata diajarkan agama lain jelas merupakan perbuatan tasyabbuh (menyerupai) yang sangat dilarang. Berdo'a dengan menuliskan secara rinci dan memasukkannya ke dalam amplop merupakan salah satu bentuk tasyabbuh dalam  masalah yang justru sangat mendasar, yakni 'ibadah. Jika mengada-adakan yang baru tanpa ada dasar dalil yang jelas pun dapat tertolak, maka apalagi menyerupai praktek agama lain. Padahal, andaikan bukan meniru agama lain, berdo'a dalam amplop menyalahi nash shahih tentang do'a sehingga tak diragukan lagi keburukannya dalam agama. Kita perlu khawatir seandainya ini bukan  tasyabbuh dari agama lain do'a dalam amplop termasuk bid'ah (sebagian lainnya menyebut dengan istilah bid'ah madzmumah sebagai lawan dari bid'ah mahmudah atau bid'ah sayyi'ah yang merupakan lawan dari bid'ah hasanah ).

Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻫُﺪَﻯ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

“Amma ba’du . Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).

Lalu, apa buruknya berdo'a dengan rinci dan menuliskan selengkap- lengkapnya? Mari kita simak hadis berikut ini sekali lagi:

ﻋَﻨْﺄَﺑِﻲ ﻧَﻌَﺎﻣَﺔَ، ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦٍ ﻟِﺴَﻌْﺪٍ، ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺳَﻤِﻌَﻨِﻲ ﺃَﺑِﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺃَﻗُﻮﻝُ:ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَﻭَﻧَﻌِﻴﻤَﻬَﺎ ﻭَﺑَﻬْﺠَﺘَﻬَﺎ، ﻭَﻛَﺬَﺍ، ﻭَﻛَﺬَﺍ،ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﺳَﻠَﺎﺳِﻠِﻬَﺎ ﻭَﺃَﻏْﻠَﺎﻟِﻬَﺎ، ﻭَﻛَﺬَﺍ، ﻭَﻛَﺬَﺍ،ﻓَﻘَﺎﻝَ :ﻳَﺎ ﺑُﻨَﻲَّ، ﺇِﻧِّﻲ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ": ﺳَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻗَﻮْﻡٌﻳَﻌْﺘَﺪُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ " ﻓَﺈِﻳَّﺎﻙَ 
 ﻥْ ﺗَﻜُﻮﻧَﻤِﻨْﻬُﻢْ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻴﺖَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺃُﻋْﻄِﻴﺘَﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ،ﻭَﺇِﻥْ ﺃُﻋِﺬْﺕَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺃُﻋِﺬْﺕَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺮِّ

"Dari Abi Nu’aamah dari anaknya Sa’d (bin Abi Waqqaash), ia berkata: Ayahku mendengarku ketika aku berdoa, “Ya Allah,sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga, kenikmatannya, lalu ini, dan itu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantai-rantainya, belenggu-belenggunya, lalu ini, dan itu”. Lalu ayahku berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:"Kelak akan ada satu kaum yang melampaui batas dalam berdo'a ’. Waspadalah agar engkau jangan sampai termasuk kaum tersebut. Seandainya engkau diberikan surga,maka akan diberikan pula segala yang ada di dalamnya dari kebaikan. Dan jika engkau dijauhkan dari neraka, maka akan dijauhkan pula segala apa yang ada di dalamnya dari kejelekan.” (HR.Abu Dawud).

Perhatikan! Baru menyebutkan permohon untuk mendapatkan surga dan kenikmatannya saja sudah termasuk merinci-rinci do'a. Apatah lagi menuliskan secara detail selengkap-lengkapnya, sungguh jauh lebih melampaui batas dibanding apa yang dilarang dalam hadis tersebut. Jika sedikit merinci saja sudah terhitung melampaui batas dengan merinci-rinci,apalagi jika lebih rinci dari itu. Seakan mereka menganggap Allah Ta'ala telah kehilangan sifat Maha Tahu. Astaghfirullahal 'adziim .

Begitu pun melakukan visualisasi do'a, jelas sekali larangannya dalam agama kita. Sekali lagi, mari kita baca hadis berikut dengan seksama:

ﻋَﻨْﺄَﺑِﻲ ﻧَﻌَﺎﻣَﺔَ، ﺃَﻥَّ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦَ ﻣُﻐَﻔَّﻞٍ، ﺳَﻤِﻊَ ﺍﺑْﻨَﻪُ ﻳَﻘُﻮﻝُ: ﺍﻟﻠَّﻬُﻤَّﺈِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺍﻟْﻘَﺼْﺮَ ﺍﻟْﺄَﺑْﻴَﺾَﻋَﻦْ ﻳَﻤِﻴﻦِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻠْﺘُﻬَﺎ،ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺃَﻱْ ﺑُﻨَﻲَّ، ﺳَﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﺗَﻌَﻮَّﺫْ ﺑِﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ،ﻓَﺈِﻧِّﻴﺴَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ: " ﺇِﻧَّﻬُﺴَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻲ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄُﻣَّﺔِ ﻗَﻮْﻡٌﻳَﻌْﺘَﺪُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻄَّﻬُﻮﺭِ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ 

"Dari Abi Nu’amah ia berkata bahwa Abdullah bin Mughaffal mendengar anaknya berdoa, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebuah istana putih yang terletak di sisi kanan surga, jika kelak aku masuk surga." Maka ia (Abdullah bin Mughaffal) berkata, “Wahai anakku, mohonlah kepada Allah surga dan mohonlah kepada-Nya perlindungan dari api neraka. Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:" Sesungguhnya kelak akan ada satu kaum dari umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdo'a .” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan yang lainnya).

Nah. Maka tidakkah ini dasar yang jelas betapa tercelanya menuliskan do'a secara rinci segamblang-gamblangnya dan menggambarkan sejelas-jelasnya sampai-sampai melengkapinya dengan foto? Tidakkah itu merupakan tindakan melampaui batas? Dan jika kita telah mengetahui larangannya yang sangat tegas dalam agama, tetapi tetap melakukannya, tidakkah ini termasuk menghinakan larangan agama? Lalu bagaimana dengan seseorang yang menuliskan permintaannya agar dido'akan oleh sahabat atau keluarganya yang sedang ke Tanah Suci? Jika sekedar untuk mengingatkan, sangat berbeda keadaan dan kedudukannya dengan menuliskan do'a serinci-rincinya dalam amplop sebagaimana yang diajarkan dalam acara yang sempat saya ikuti ketika itu. Sangat berbeda. Sesungguhnya seseorang yang sedang melakukan safar memiliki keutamaan dalam berdo'a. Tak ada lagi alasan bagi kita untuk melakukan amalan yang jelas-jelas bertentangan dengan agama ini. Apalagi praktek do'a semacam itu justru tasyabbuh dari agama lain.

Berkenaan dengan surga, apakah tidak boleh kita meminta surga terbaik? Justru Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam perintahkan kita berdo'a meminta surga yang tertinggi, yaitu surga Firdaus, sebagaimana sabdanya:

ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﺩَﺭَﺟَﺔٍ ﺃَﻋَﺪَّﻫَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻠْﻤُﺠَﺎﻫِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ ﻛُﻞُّ ﺩَﺭَﺟَﺘَﻴْﻦِ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻛَﻤَﺎﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟْﺘُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺴَﻠُﻮﻩُ ﺍﻟْﻔِﺮْﺩَﻭْﺱَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺃَﻭْﺳَﻂُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﺃَﻋْﻠَﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِﻭَﻓَﻮْﻗَﻪُ ﻋَﺮْﺵُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻭَﻣِﻨْﻪُ ﺗَﻔَﺠَّﺮُ ﺃَﻧْﻬَﺎﺭُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

“Dalam surga terdapat seratus derajat yang Allah persiapkan bagi para mujahidin di jalan-Nya, yang jarak antara setiap dua tingkatan bagaikan antara langit dan bumi. Maka, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus, sebab Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya ada singgasana Ar-Rahman, dan dari sanalah sungai- sungai surga memancar.” (HR. Bukhari).

Inilah yang dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, yakni meminta surga tertinggi, surga terbaik. Tetapi tak perlu engkau merinci-rinci dan mendeskripsikannya secara visual. Andaikan engkau memiliki imajinasi yang sangat kuat, maka sungguh Allah Ta'ala Maha Kuasa untuk mencipta surga yang tak sanggup engkau bayangkan keindahannya. Andaikata engkau memiliki kesanggupan memikirkan detail-detailnya, maka sungguh Allah Ta'ala memiliki ketelitian yang tak tertandingi oleh siapa pun untuk menjadikan manusia terkesimah dengan pemandangan di surga yang pintunya saja lebarnya antara Makkah dan Bushra atau antara Makkah dan Hajar (1.272 kilometer), sementara jarak antar pintu sejauh 40 tahun perjalanan. Dari Utbah bin Ghazawan radhiyallaahu anhu , ia berkata mengenai lebar tiap pintu surga: "Rasulullah (shallaLlahu 'alaihi wa sallam) bersabda kepada kami bahwasanya jarak antara daun pintu ke daun pintu surga lainnya sepanjang perjalanan empat puluh tahun, dan akan datang suatu hari ketika orang yang memasukinya harus berdesakan.” (HR. Muslim).

Semoga Allah Ta'ala menolong kita, melimpahi kita hidayah dan mematikan kita dengan husnul khatimah.

Sumber FB Muhammad Fauzil Adhim

Sunday, January 11, 2015

Selfie with Dan Cohen

Foto selfie Dan Cohen dengan beberapa bocah Palestina di Gaza dan di unggah ke twitter dengan tagline Selfie with the greatest threat to Israel mendapat respon luar biasa para pengguna twitter dan di retweet lebih dari 25 ribu kali.

Foto yang sebenarnya sederhana dan hanya diambil dengan ponsel dengan latar belakang bangunan yang hancur akibat serangan Israel itu memang mengundang reaksi karena menurut Dan Cohen menampilkan senyuman dan harapan anak-anak Gaza, serta yang mengunggah itu Dan Cohen yang Yahudi kulit putih. Sudah terlalu banyak bukti kekejaman Israel di tanah Palestina dan Senyuman anak-anak Palestina yang secara demografi merupakan ancaman bagi Israel mendapat sambutan luas begitu kata Cohen dalam wawancara dengan situs online mondoweiss.com

Siapa Dan Cohen? Ikutin aja twitternya @dancohen3000



sumber
mondoweiss.com

Saturday, January 10, 2015

Bunga Apa?

Ada yang tahu bunga apa ini?


Pitahaya

Baru tau kalo buah naga itu disebut juga Pitaya atau Pitahaya dalam bahasa Spanyol. Dan aslinya berasal dari Mexico dan Amerika tengah lainnya.

Buah Naga ternyata bukan hanya satu spesies, ada beberapa spesies Kaktus terpisah yang menghasilkan buah yang biasa kita sebut Buah Naga, makanya ada yg putih, merah atau juga yang kuning.

Baru tau juga kalo buah naga itu bunganya mekar malam hari yang artinya hewan yang membantu penyerbukannya itu hewan malam. Dari dua rumpun kaktus yang ada di depan rumah bunganya mekar sekitar 2 malam, kalo berhasil diserbuki, maka akan berbuah.













Silahkan menikmati...

Hujan, Sabtu, dan Kenangan



Tujuh bulan sudah Fathi mendahului menghadap Allah SWT, tapi kenangan Fathi tak ada habisnya untuk diingat.

Hari sabtu merupakan hari pertama tanpa kehadiran Fathi, begitu terasa karena Fathi itu anaknya rame dan ga dapat diam kalo di rumah.

Saat hujan begini juga ingat dulu Fathi minta main keluar saat hujan. Juga saat berdoa bersama "Allahumma Shoyyiban Nafian"

Monday, January 5, 2015

Akhirnya Rollout Juga

Akhirnya SPAN roullout juga di KPPN Sragen dengan SPM pertama dari BPSMP Sangiran





Setelah dua kali gagal dengan berbagai alasan, akhirnya rollout juga...

Ganbatte