Tuesday, November 17, 2015

Video : Palestine Children Under Occupation



video shows how the Palestinian children living under the occu...

#Watch : video shows how the Palestinian children living under the occupation, this clip is truly breaking heart . Please watch this video, not many people know the suffering and the psychological trauma these children go through because of this genocide. #Share#Palestine_deserves_your_sympathy
Posted by Palestinian Intifada News Agency on Monday, 16 November 2015


‪#‎Watch‬ : video shows how the ‪#‎Palestinian‬ children living under the occupation, this clip is truly breaking heart . Please watch this video, not many people know the suffering and the psychological trauma these children go through because of this ‪#‎genocide‬.

sumber : https://www.facebook.com/intifada3jerusalem/



Rindu Itu

Selalu merindukanmu...
Sosok mungil yang tenang dan kalem....
Yang sangat pemurah hatinya....
Yang menjadi panutan adik- adiknya...
Selalu terbayang...
Saat kau berkata
"Mah, dah kucuci piringnya..."
Yaa Rabb, anak 4 tahun itu...
diam-diam pergi dari pandangan, ancik- ancikk dingklik...
menyapu kotoran piring dan gelas dengan tangannya sampai bersih..
Selalu terngiang....
Saat kau berkata..
"Mah airnya dah kubuang.."
"Mah, dah kuputar mesinnya"
Anak sholih 4 tahun itu...
Dah bisa mengoperasikan mesin cuci 2 tabung...
Ya keingintahuan saat besar...
Mah ini bagaimana...
Mah kubantu ya....
Saat ummah ada gundahpun...
seperti hati bicara... akan menemani ummah berbaring dan mendengar apa yang ummah sampaikan....
Anak 4 tahun itu masuk ke rumah..
Berkata, " mah, aku ambil mainan ini ya.. mainan itu ya..."
dibawa keluar, karena temannya ingin bermain dengan mainannya...
terkadang malah bocah itu tidak kebagian.. sangat senang melihat temannya senang bermain dengan mainannya....
Anak pintar itu berkata
"Mah, aku ingin jadi seorang perakit..."
"Merakit pesawat seperti Pak Habibie..."
Anak yang santun itu kadang bertanya
"Kenapa ummah? Capek ya... sini kakak pijat"
Biasa dengan kemandirian.. makan sendiri... tercecer, langsung ambil sapu tanpa diminta....
Anak itu telah pergi menuju bahagia...
Yah.. kebahagiaan yang hakiki...
Pengasuhan yang terbaik...
Selalu merindukanmu nak....
Semoga kelak kau jemput kami di pintu surga...
Bersama... Bermain... Bercengkrama ...
Di taman2 surgawi....
Semoga....
Aamiin Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin

Wednesday, November 11, 2015

Al Aqsha Mosque







— Said - Palestine (@saidshouib) November 10, 2015

Monday, November 2, 2015

FREE PALESTINE



Monday, October 26, 2015

Larangan yang Dilarang, Larangan yang Dibolehkan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim



Semoga Allah Ta’ala mengampuni saya.

Marilah kita mengingat firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an surat Luqman:

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman, 31: 19).

Apa yang buruk dengan suara keledai? Suara yang keras, tidak enak didengar, serupa membentak. Tidak patut kita menggunakan suara semacam ini pada saat berbicara, meskipun kepada anak-anak kita. Bersuara keras tanpa ada maslahat yang memang mengharuskan untuk keras, terlebih tak enak didengar dan menjengkelkan, menjadikan nasehat yang baik akan terasa menyebalkan. Apalagi jika itu digunakan untuk menyampaikan larangan, semakin menimbulkan penolakan.

Apa yang sebenarnya terjadi pada kita? Banyak orangtua maupun guru yang begitu buruknya melihat larangan, seolah larangan itu mematikan sel-sel otak dan bahkan jutaan sel pula, sehingga kita meninggalkan apa yang justru ada contohnya dari generasi salafush shalih. Kita menganggap larangan itu sebagai penghambat pendidikan, padahal masalahnya lebih kepada bagaimana kita seharusnya melarang serta suara yang kita gunakan saat menyampaikan larangan. Kerap terjadi dalam berbagai forum keayahbundaan (parenting), mengesankan buruknya larangan dengan suara keledai yang menggelegar dan tidak enak didengar. Sementara ketika menunjukkan cara komunikasi yang berbeda menggunakan nada suara yang lebih bersahabat bagi telinga dan lebih dekat dengan sunnah. Alhasil, banyak pendidik merasa bahwa melarang merupakan seburuk-buruk cara mendidik yang ada di muka bumi. Cara lain itulah yang baik. Padahal ada faktor lain yang perlu diperhatikan, yakni suara kita saat berbicara maupun suara narasumber saat memberikan contoh dan mendemonstrasikan baik buruknya teknik komunikasi.

Apakah dengan demikian kita merdeka untuk menghujani anak dengan berbagai larangan? Tidak. Sebaik-baik perkataan adalah kitabuLlah dan sebaik-baik petunjuk adalah sunnah Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Maka kepada wahyain (dua wahyu) inilah kita mengacu, melihat contoh dan berusaha mengilmui prinsip-prinsipnya. Kita menyampaikan larangan, perintah maupun nasehat yang berisi pertimbangan kepada anak untuk mengokohkan kebaikan maupun meluruskan kesalahan.

Inilah yang perlu kita gali dan pelajari agar dapat mendidik anak dengan baik (semoga Allah Ta’ala menolong kita dalam membaguskan anak-anak kita serta diri kita sendiri). Kita perlu belajar untuk menakar tindakan, tidak tergesa-gesa dalam bertindak agar tidak keliru mencela di saat harus memberi penghargaan atau sebaliknya.

Sesungguhnya setiap anak lahir dengan dorongan berbuat baik. Ia mencintai kebaikan dan secara naluriah ingin menjaga diri dari keburukan. Tetapi, pada saat lahir, mereka belum mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan. Orangtuanyalah yang keliru memberi tepuk tangan pada keburukannya sehingga anak justru bersemangat mengulangi, sementara saat berbuat baik kita kadang justru mengabaikannya sehingga anak enggan melakukannya lagi. Hanya gara-gara berbuat baik pada adiknya di waktu yang tidak tepat, mata kita melotot dan tangan kita segera memberi pesan pada lengannya dengan sebuah cubitan yang membuatnya meringis kesakitan. Padahal yang seharusnya kita lakukan adalah memuji iktikadnya dan meluruskan tindakannya. Bukan menyalah-nyalahkan. Apalagi mempersalahkan. Sebab setiap anak pada dasarnya tidak mau disalahkan dan dicela. Apalagi dipermalukan. Tetapi, mereka akan senang apabila dihargai dan ditunjukkan apa yang lebih baik bagi mereka.

Apakah ini berarti kita tidak boleh menunjukkan kesalahan anak? Bukan begitu. Jika kita tidak menunjukkan kesalahan anak, mengajari anak untuk menyadari kesalahannya dan selanjutnya berani mengakui kesalahannya, mereka justru dapat berkembang menjadi pribadi yang rapuh tidak tahan kritik. Bahkan menerima teguran yang tak seberapa sekalipun, membuatnya tersinggung dan meradang. Padahal sebagai muslim, kita dituntut untuk saling menasehati, saling mengingatkan dalam kebenaran, mengoreksi yang salah dan bahkan nahy munkar (mencegah kemungkaran). Jika anak-anak tidak dididik untuk menerima dan mengakui kesalahannya, maka sulit sekali mereka menerima teguran dari sesama muslim, yang paling halus sekalipun.

Alangkah banyak kemajuan yang justru bersumber dari kesediaan menerima dan mengakui kesalahan, lalu dengan itu memperbaikinya. Sangat berbeda menyalah-nyalahkan dengan menunjukkan kesalahan. Adakalanya kita bahkan perlu mengingatkan anak terhadap kesalahannya, terutama untuk anak yang sudah beranjak besar. Mereka mulai mengerti; mampu membedakan benar dan salah dengan akalnya.

Berkenaan dengan menunjukkan kesalahan anak, sekedar contoh saja, ada buku yang patut dipelajari. Judulnya Better by Mistake: The Unexpected Benefits of Being Wrong. Apa yang menarik dari buku ini? Merujuk kepada penelitian terhadap bangsa China, Korea Selatan dan Jepang, menunjukkan kesalahan anak dan mengajak menelusuri mengapa kesalahan tersebut dapat terjadi merupakan hal yang sangat berperan terhadap kemajuan pendidikan. Anak bersemangat mengetahui kesalahannya sekaligus belajar bagaimana memperbaikinya di masa yang akan datang. Artinya, ada kesiapan anak untuk menerima kesalahan, kesiapan teman-teman sebaya untuk menerima sebagai hal yang dapat terjadi pada siapa pun, ada dukungan dari lingkungan untuk belajar dari kesalahan (termasuk dari teman-teman sebaya) dan ada umpan balik dari guru. Jadi bukan sekedar menunjukkan kesalahan. Apalagi hanya menyalah-nyalahkan saja.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tentu, ada kesalahan yang hanya patut kita sampaikan kepada anak tanpa diketahui orang lain. Ini merupakan kesalahan yang apabila disampaikan di depan anak-anak yang lain akan menjadi aib baginya, sehingga jika orangtua maupun guru melakukannya dapat membangkitkan dendam pada diri anak. Yang demikian ini merupakan salah satu penyebab kenakalan anak. Khusus berkait dengan kenakalan, saya berharap dapat menuliskannya dalam satu buku terpisah. Insya Allah. Kepada Allah Ta’ala saya memohon petunjuk dan kemudahan.

Tetapi...

Sulit bagi anak untuk menerima kesalahan, bahwa dirinya melakukan kesalahan, jika kita menyampaikannya dengan nada mencemooh. Sulit pula bagi anak mengakui kesalahan jika kita tidak membiasakannya menerima kritik. Hanya memuji tanpa memberikan koreksi justru dapat menjadikan anak mudah tersinggung jika ditunjukkan kesalahannya. Begitu pula jika anak terlalu sering memperoleh kritik. Hal yang sama –sulit menerima kritik dan koreksi—jika mereka sangat jarang menerima perintah dan larangan.

Jika kita ingin mengantarkan anak-anak agar dapat menundukkan hatinya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, maka ketahuilah bentuk ujian yang paling nyata dari Allah Ta’ala kepada manusia adalah perintah-perintah serta larangan-larangan. Tidak bernilai amal dan ibadah kecuali yang benar-benar dilakukan ikhlas semata mengharap ridha Allah Ta’ala. Tetapi ikhlas bukan berarti ringan di hati. Berat hati tapi tetap melaksanakan demi memperoleh ridha Allah Ta’ala, pun demikian dalam menjauhi apa yang dilarang, maka itulah ikhlas. Dan kita sebagai orangtua perlu menyiapkan ruhani anak agar tidak merasa terganggu “haknya” oleh perintah-perintah serta larangan-larangan.


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan, 76: 2).

Nah.

Meskipun demikian, terlalu banyak memberikan perintah dan larangan tanpa memberi kesempatan untuk berbincang bersama maupun bertukar pikiran, dapat menjadikan kehilangan inisiatif-inisiatif produktifnya. Sesungguhnya, segala sesuatu yang melampaui batas akan keluar dari kebaikan. Pertanyaannya, bagaimana dengan kita selaku orangtua? Sudah tepatkah? Ataukah kita termasuk orang-orang yang melampaui batas? Atau sebaliknya, kita masih lemah dalam mendidik anak?

Sebelum beralih ke perbincangan berikutnya, mari sejenak kita ingat do’a-do’a yang dituntunkan bagi kita untuk memohon kepada Allah Ta’ala. Di antara do’a tersebut ada yang menggunakan kalimat larangan. Apakah ini bermakna kita melarang (apalagi melarang keras) Allah Ta’ala? Tidak. Sama sekali tidak. Tak ada kepatutan bagi kita, tak pula kekuasaan. Ini merupakan kalimat larangan yang bermakna permohonan penuh harap. Dalam mendidik anak, kita pun dapat menyampaikan kalimat-kalimat larangan yang bermakna harapan kepada anak-anak kita.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga Allah Ta’ala menolong kita, membaguskan anak-anak kita, dan memperbaiki apa yang buruk dari cara kita mendidik anak.

sumber : fb

Tuesday, October 20, 2015

Kuwait calls for Israel to be dismissed from international parliament


The head of the Kuwaiti Parliament Marzouq Ali Al-Ghenim has renewed his call to dismiss Israel from the international union of parliaments as a response to its continued aggression towards Palestinians, Alkhaleejonline.com reported on Sunday.
Al-Ghanim’s remarks were delivered during the 133rd conference of the Inter-Parliamentary Union (IPU) held in Geneva last week.
“The least thing to do in the face of the Israeli violations and the bloodshed in Palestine is to dismiss those outcast people [in reference to the Israelis] whose crimes are chargeable on all levels,” Al-Ghanim said.

Is this the Third Intifada?

Rising tensions in the Occupied Territories have led to dozens of deaths and hundreds of clashes.
Are we witnessing the Third Intifada?
He also said that Israeli crimes are “contradictory” to the principles of the IPU, Geneva Conventions, all religions and every human covenant.
“With no doubt, I am repeating that we are not against Judaism as a religion and a value… but we oppose Zionism, which we have experienced as a synonym for racism,” he stated.
Calling for peace, he said: “We are not calling for genocide, but calling for peace based on justice, honour, UN conventions and international law… I am calling for the IPU members to support our measures aiming to put pressure on the Israeli occupation to help Palestinians establish their own state with occupied Jerusalem as its capital.”



Sunday, September 20, 2015

Delete Akun Instagram


Entah kenapa kalo mo delete alias matiin akun di media sosial itu ga gampang, mesti pake waktu dan usaha buat nyari gimana mo matiinnya. ketika udah ketemu tombol delete mesti diingetin lagi mo delete apa deaktif dulu. dll

Misalnya ketika mau delete akun instagram, ga ada itu tombol delete atau deaktif di setting atau profile akun, adanya di menu help alias secara ga langsung link delete itu disembunyikan. Belum lagi delete akun itu ga bisa via mobile appsnya padahal kan instagram itu basis nya aplikasi ponsel alias jarang yang buka instagram di web langsung. Pas bikin akun Instagram juga harus via aplikasi mobile nya kok tapi ketika mo delete mesti via web.

Kalo udah bosen sama instagram  ya delete aja, ikutin cara ini :
1. donlot dulu semua foto pake instaport kalo masih sayang fotonya.
2. kalo udah tinggal buka link ini
3. terus isi kenapa mo delete akun dan isi password, lalu oke.
4. selamat tinggal instagram...
5. coba masuk lagi bisa ga...:D
6. selamat mencoba :D





Wednesday, September 16, 2015

What's Wrong with Wikipedia?

What's Wrong with Wikipedia?

There's nothing more convenient than Wikipedia if you're looking for some quick information, and when the stakes are low (you need a piece of information to settle a bet with your roommate, or you want to get a basic sense of what something means before starting more in-depth research), you may get what you need from Wikipedia. In fact, some instructors may advise their students to read entries for scientific concepts on Wikipedia as a way to begin understanding those concepts.

Nevertheless, when you're doing academic research, you should be extremely cautious about using Wikipedia. As its own disclaimer states, information on Wikipedia is contributed by anyone who wants to post material, and the expertise of the posters is not taken into consideration. Users may be reading information that is outdated or that has been posted by someone who is not an expert in the field or by someone who wishes to provide misinformation. (Case in point: Four years ago, an Expos student who was writing a paper about the limitations of Wikipedia posted a fictional entry for himself, stating that he was the mayor of a small town in China. Four years later, if you type in his name, or if you do a subject search on Wikipedia for mayors of towns in China, you will still find this fictional entry.) Some information on Wikipedia may well be accurate, but because experts do not review the site's entries, there is a considerable risk in relying on this source for your essays.

The fact that Wikipedia is not a reliable source for academic research doesn't mean that it's wrong to use basic reference materials when you're trying to familiarize yourself with a topic. In fact, the library is stocked with introductory materials, and the Harvard librarians can point you to specialized encyclopedias in different fields. These sources can be particularly useful when you need background information or context for a topic you're writing about.

Sunday, September 13, 2015

Apakah KSA Memang Diam Saja Soal Pengungsi Syiria?



Kalo ga percaya akun twitternya @bsfromps silahkan cek the guardian, reuters, atau @ajenglish. Masih ga percaya cek webnya UNRWA.

Mari adil pada sesama.

Thursday, September 10, 2015

Sudahkah Shalat Merasuk Dalam Jiwa Kita?

Oleh Ust. Syarif Baraja

Tidak ada yang berbeda pada Subuh hari itu, terdengar Iqamat berkumandang, kaum muslimin di masjid Nabawi berbaris lurus dan rapat untuk shalat. Selesai memeriksa barisan, Imam menghadap kiblat dan mengangkat tangannya. Terdengar suara takbir, para makmum pun bertakbir. Suasana sunyi sejenak, kemudian terdengar bacaan surat al fatehah. Makmum menyimak al fatehah dengan khusyu’, kemudian mengucapkan Amin setelah imam membaca ayat terakhir al fatehah. Setelah diam sejenak, imam memulai membaca surat Yusuf.


Ya, surat yusuf. Ini bukan shalat subuh di tahun 2011, peristiwa ini terjadi tahun 23 H,  tahun 644 MasehiImamnya adalah Umar bin Khattab, makmumnya adalah para sahabat. .Umar biasa membaca surat An Nahl, Hud dan Yusuf pada shalat subuh. Inilah hari terakhir Umar bin Khattab shalat subuh di masjid Nabawi.


Umar terus membaca, hingga sampai ke ayat 84:
وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ 
Dan Yakub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
Umar berhenti membaca ayat karena tak kuasa menahan tangisnya, jamaah pun ikut menangis.


Umar bertakbir lalu ruku’, jamaah pun mengikuti. Tiba-tiba seseorang meringsek ke arah imam, lalu menusuk Umar di perutnya 3 kali. Umar bertakbir tiga kali. Orang itu berlari ke belakang, dan menyabetkan belatinya ke setiap orang yang dilewatinya. 13 orang terkena sabetan belati. 7 orang di antaranya wafat. Seorang sahabat melemparkan jubahnya ke kepala si pembawa belati, jubah itu menjeratnya. Para sahabat membekuknya, dia tidak bisa lari lagi. Dia menusukkan belatinya ke arah dirinya, kemudian menghembuskan napasnya. Dia adalah Abu Lu’lu’ah Al Majusi, seorang persia yang menjadi budak tawanan perang penaklukan imperiuam persia. Di Iran, sebuah bangunan megah berdiri di makam yang diklaim sebagai makam Abu Lu’lu’ah Al Majusi. Banyak orang berziarah ke sana.


Sebelum roboh, Umar sempat menggaet tangan Abdurrahman bin Auf untuk menjadi imam. Umar pun terkapar, darah mengalir dari perutnya. Setelah shalat, para sahabat menggotong Umar ke rumahnya, darah mengalir membasahi baju para sahabat.


Umar terbaring pingsan. Rupanya si majusi meracuni belatinya. Sahabat tidak tahu apakah Umar masih hidup atau sudah mati. Umar tetap diam, sambil darahnya mengalir. Umar tetap diam tak bergeming. Racun sudah bereaksi di tubuhnya.Mereka berupaya membangunkan, mungkin dengan memanggil-manggil namanya, ataupun menggoyang-goyang badannya, tapi Umar tetap diam tak bergerak.


Seseorang berkata, bangunkan dia dengan shalat, kalian tidak bisa membangunkannya kecuali dengan mengingatkan shalat. Ini karena semua sahabat tahu bahwa Umar sangat memperhatikan shalat. Umar tidak main-main dengan shalat.
Lalu para sahabat berkata wahai amirul mukminin, shalat, shalat,


Mendengar kata shalat, Umar terbangun, tubuhnya gemetar, katanya: ya, shalat, orang yang tidak shalat, tidak ada bagian Islam dari dirinya. Keislaman dalam jiwa Umar masih ada, bukan sekedar masih ada, tapi masih dalam kadar yang tinggi.Umar segera berwudhu dan shalat subuh, sambil darah mengalir dari lukanya.


hidup Umar adalah shalat. Ini karena Umar memahami bahwa kadar keislaman seseorang bergantung dari shalatnya.mengalahkan racun yang mengalir dalam darahnya. Yang paling berharga dalamRupanya shalat sudah begitu merasuk ke dalam jiwanya, merasuk ke setiap sel dalam tubuhnya,


Suatu kali, Umar menuliskan pesannya kepada umat Islam, dan menyebarkannya ke seluruh wilayah  agar kaum muslimin mendengarnya:
 إن أهم أموركم عندي الصلاة فمن حفظها حفظ دينه ومن ضيعها فهو لما سواها أضيع ولاحظ في الاسلام لمن ترك الصلاة
Sesungguhnya perkara agama yang paling penting adalah shalat. Siapa yang menyia-nyiakan shalat, maka dia akan menyia-nyiakan perkara lainnya. Orang yang meninggalkan shalat, tidak memiliki bagian dari Islam.


Meski dalam kondisi sakit dan terluka, Umar masih menjaga iman dan islamnya. Dia tahu bahwa orang yang kehilangan shalat, dia akan kehilangan islam dan iman. Orang yang kehilangan Islam dan Iman berarti telah kehilangan segalanya. Melebihi sekedar kehilangan harta dunia, melebihi kehilangan nyawa.


Shalat adalah barometer islam dan iman. Jika ingin melihat keimanan seseorang, lihatlah shalatnya, lihatlah sikapnya terhadap shalat, lihatlah bagaimana dia shalat. Tapi jangan hanya melihat ke luar, lihatlah ke diri anda sendiri. Perhatikan shalat anda, perhatikan bagaimana anda shalat, perhatikan sikap anda terhadap shalat, anda akan tahu kualitas iman anda dari shalat.


Sebuah kesimpulan yang sangat dalam. Luar biasa


Umar menyimpulkan ini semua dari Nabi Muhammad SAW, yang mementingkan shalat lebih dari segalanya, yang begitu sering memberitahukan pentingnya shalat pada sahabat, mengajarkan pada sahabat tentang pentingnya shalat. Mengajarkan dengan lisannya, yaitu dengan banyaknya hadits-hadits tentang shalat, baik yang menjelaskan keutamaannya, menjelaskan ancaman bagi yang meninggalkannya. Juga mengajarkan dengan perbuatannya, Nabi mengajarkan tatacara shalat dengan lengkap. Hari ini, kita bisa mengetahui seluruh tatacara shalat Nabi.


shalat menjadi penamat akhir kata Nabi Muhammad SAW, menjadi penutup hidupnya. Nabi Saw begitu mencintai umatnya, begitu sayang pada umatnya, tetap memikirkan umat sampai akhir hayat. Saat menjelang ajalnya, Nabi mengulang-ulang kalimat:Pada akhir hayat, pada detik-detik terakhir hidupnya, saat menghembuskan napas terakhir,


Shalat, shalat, dan budak-budakmu, shalat, shalat, dan budak-budakmu, shalat, shalat, dan budak-budakmu.


Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu Salamah: Nabi mengulang-ulang kalimat itu sampai suaranya tidak jelas terdengar.


Sampai suaranya tidak lagi jelas terdengar, karena ruhnya sudah mencapai leher, sampai ruhnya dicabut oleh malaikat, Nabi tidak berhenti mengingatkan umatnya tentang shalat. Hanya pesan penting yang disampaikan pada kesempatan terakhir. Seolah Nabi mengirimkan isyarat, bahwa shalat adalah sesuatu yang paling penting dalam hidup seorang muslim, baru kemudian berbuat baik pada budak.


Umar benar-benar meresapi pesan Nabi mengenai shalat dengan seluruh tubuhnya. Hingga tersimpan di memori yang paling dalam, pada otak yang mengatur kerja organ dalam, tubuh, seperti detak jantung, usus, liver dan pankreas, yang tetap bekerja meski sedang pingsan dan tidur.

Bagaimana dengan kita?

Sumber : FB

Sunday, August 30, 2015

Khittah Islam Nusantara



oleh : Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin

Akhir-akhir ini Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia juga ikut memperbincangkannya. Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru. Hal ini wajar karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan di dalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.
Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang yang digelar beberapa waktu lalu, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun, sebagai pemikiran, gerakan, dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah Waljamaah al-Nadliyyah. Mengapa di sini perlu penyifatan al-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain di luar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan, dan amalan yang berbeda dengan NU.
Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah Waljamaah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para Mua’sis (pendiri) dan ulama NU. Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran, dan moderat.

Tiga Pilar
Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting di dalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikrah); kedua, gerakan (harakah); dan ketiga, tindakan nyata (amaliyyah/amaliah).

Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi di dalam memahami teks-teks Al Quran. Salah satu pernyataan Imam al-Qarafi, ulama ahli usul fikih, menyatakan jika ”al-jumûd ‘alã al-manqûlãt abadan dalãl fi al-din wa jahl bi maqasidihi”, pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan di dalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati di kalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir di kalangan NU.

Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jamiah (perkumpulan) dan jamaah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi. Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdh bi al-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.

Pilar ketiga adalah amaliah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan Nahdliyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fikih dan usul fikih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliah yang diperintah Al Quran dan Sunah Nabi. Dengan cara demikian, amaliah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama di tengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang di dalam usul fikih disebut dengan ’urf atau ‘ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan demikian inilah pada dasarnya yang dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan para pendiri NU kepada kita semua.

Penanda Islam Nusantara

Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan, dan amalan yang dilakukan para Nahdliyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan di sana (tatwir al-fikrah), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.

Kedua, tawazuniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.
Ketiga, tatawwu’iyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, Nahdliyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang di luar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara di atas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.

Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan, dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun di sini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.

Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.
Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit di sini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada di tengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis, dan konstitusional.

Ijtihad

Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada di dalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.

Islam Nusantara tidak berhenti di sini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati di kalangan Nahdliyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al Quran dan Sunah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai Nahdliyin di sini misalnya adalah maãlahah (kebaikan).

Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan di tengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: ”idhã wujida nass fathamma masslahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar’ al-Lãh—jika ditemukan teks, maka di sana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka di sana adalah hukum Allah”. Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di ruang yang lebih luas.

Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi.

Oleh: KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI Pusat/ Rais Aam PBNU, dalam artikelnya yang berjudul Khittah Islam Nusantara, yang dimuat di Kompas pada 29 Agustus 2015.

Wednesday, August 26, 2015

Mengenang Fathi


7 tahun yang lalu... tanpa didampingi abimu... kau bersiap lahir di dunia fana ini....
Walau sanak saudara silih berganti yang menemani....
Tapi tetap saja ada hampa di hati...
Dan tepat di hari Rabu, 27 Agustus 2008 pukul 14. 27 WIB kau terlahir... sungguh luar biasa....
Kau tumbuh sehat dan kuat....
cerdas dan sholih...
Hatimu sangat lembut dan penyayang....
Kau sangat baik hati... pemurah dan full senyuman...
Kau selalu bangun di pagi hari... yah... sebelum orang2 di sekitarmu terbangun.... dan ini kebiasaanmu yang sungguh luar biasa...
Dan tepat di usiamu yang ke 5, 27 Agustus 2013, kau pun pertama kali menjalani Ct SCAN. Tidak mudah melakukannya.. karena kau anak kecil yang mau kebebasan.... yang takut dengan ketidakbiasaan... yang belum mengerti arti tindakan medis... kau cuma hrs menuruti orang2 besar di sekitarmu....
Setelah itu hari2 lincahmu... hari2 bebasmu.... hari2 ceriamu.... seperti terenggut oleh smua yang ada.....
Tapi kau tetap tegar.... kau tetap ceria... kau tetap semangat... kau tetap bahagia....
Di sela hari2 yang harus kau lalui.. di RS dengan segala bentuk perlakuan... tapi kau tetap tanpa keluhan... yah tanpa keluhan... sakitmu seperti kau sembunyikan.... kau tetap tersenyum dan tetap ingin tidak mengeluh... tidak ingin membebankan rasa di orang2 sekitarmu.....
Sampai akhirnya... menjelang usiamu yang ke 6... Sungguh, Allah sangat sayang padamu.... ingin mengambilmu.... ingin cepat memberikan bahagiaanmu yang hakiki.... menghindarikanmu dari fatamorgana dunia.... mensucikanmu dalam cintaNya...
Yah... sampai batas itu....
Jumat, 4 Juli 2014 pukul 12.30 ... hari ke 6 di bulan Ramadhan...
Kau telah kembali ke pangkuanNya...
Dan kami harus ikhlas.... harus ikhlas nak... Karena kau pasti sangat bahagia di sana.... yah... kebahagiaan yang tentu tidak akan kau rasakan d dunia fana ini...
Semoga kelak Allah perkenankan kau menjemput kami orangtuamu di pintu surgaNya....
Untuk masuk dan berkumpul kembali... bercanda dan berbahagia bersama.... di jannahNya...
Aamiin.Aamiin...Aamiin...Yaa Rabbal Aalamiin....
27 Agustus 2008 - 27 Agustus 2015

BUTA HURUF DAN AKSARA ARAB DI KOIN INDONESIA

Oleh : Adkhilni M. Sidqi




Coba perhatikan apa yang menarik dari koin Indonesia 25 sen tahun 1952 yang saya temukan di Damaskus ini?
Bagi saya, koin ini menyibak banyak hal dari masa lalu. Selain karena ukuran dan materialnya sangat mirip dengan koin Rp500 "bunga melati" tahun 2003, yang paling menarik dari koin ini adalah penggunaan aksara Arab pada koin Indonesia. Ternyata Indonesia pernah mencetak koin dengan tulisan Arab, yakni 1 sen (1952), 5 sen (1951—1954), 10 sen (1951—1954), dan 25 sen (1952). Setelah itu aksara Arab dalam mata uang Indonesia lenyap dan digantikan seluruhnya dengan huruf latin.
"Mengapa Indonesia menggunakan aksara Arab?" si penjual koin malah bertanya ke saya.
"Hmmm... mungkin karena sebagian besar rakyat Indonesia saat itu lebih familiar dengan tulisan Arab," jawab saya sekenanya, tapi malah jawaban itu balik menyerang saya dengan lebih banyak pertanyaan dalam kepala.
Sejak lama kita selalu dijejali data bahwa pada masa awal kemerdekaan, tingkat buta huruf di Indonesia mencapai lebih dari 90%! Bayangkan suatu bangsa yang menuntut kemerdekaan padahal hanya kurang dari 10% penduduknya yang bisa baca tulis. Bagaimana bangsa merdeka itu kelak bisa menjalankan pemerintahannya dan mengurus negaranya jika baca tulis saja tidak becus? Tidak heran salah satu perdebatan sengit di BPUPKI adalah bangsa ini belum siap untuk merdeka karena masih bodoh dan belum bisa baca tulis.
Namun tunggu dulu… sebetulnya bangsa Indonesia saat itu "buta huruf" atau buta huruf latin? Bagaimana dengan aksara Arab yang sudah lebih dulu dikenal oleh umat Islam di Indonesia? Atau bagaimana dengan aksara-aksara lokal Nusantara? Apakah mereka juga dijebloskan ke dalam 90% penduduk yang buta huruf itu? Saya teringat almarhumah nenek yang lahir sebelum Indonesia merdeka. Beliau besar di lingkungan pesantren terbata-bata dan berat sekali membaca aksara latin, tapi sangat cepat dan ringan membaca tulisan Arab/Arab Melayu/Pegon. Apakah ia buta huruf?
Didorong oleh rasa penasaran, penemuan koin ini menuntun saya untuk menggali lebih dalam tentang sejarah aksara Arab Melayu/Jawi/Pegon. Sebelum masa kolonial, Arab Melayu/Jawi/Pegon ini luas digunakan sebagai bahasa sastra, bahasa pendidikan, dan bahasa resmi kerajaan se-Nusantara. Beberapa karya sastra ditulis dengan aksara ini, seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Amir Hamzah, Syair “Singapura Terbakar” karya Abdul Kadir Munsyi (1830), juga karya-karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan tafsir Qur’an karya Kyai Saleh Darat juga ditulis dengan Arab Pegon yang kini sudah banyak dilupakan.
Surat-surat raja Nusantara, stempel kerajaan, dan mata uang pun ditulis dalam aksara Arab Melayu/Jawi ini. Kesultanan Pasai Aceh, Kerajaan Johor dan Malaka, Kesultanan Pattani pada abad 17, secara resmi menggunakan Arab Melayu sebagai aksara kerajaan. Termasuk juga dalam hubungan diplomatik, kerajaan-kerajaan Nusantara menggunakan aksara Arab Melayu untuk membuat perjanjian perjanjian resmi baik dengan Inggris, Portugis, maupun Belanda. Konon, deklarasi kemerdekaan Malaysia 1957 sebagian juga ditulis dalam aksara Arab Melayu.
Akan tetapi, pengaruh kuat dominasi kolonial Belanda lambat laun menggeser kejayaan aksara Arab Melayu/Pegon. Terlebih lagi pada pergantian abad ke-19, media penerbitan secara besar-besaran mencetak huruf latin sebagai media komunikasi massa. Pun juga setelah merdeka, Pemerintah Indonesia lebih memilih untuk melestarikan aksara latin dengan menyebut orang-orang yang sehari-hari menggunakan aksara Arab Melayu atau aksara daerah, tapi tidak bisa membaca huruf latin, sebagai "buta huruf."
Akhirnya, aksara sebagai rekaan bahasa tidak hanya memberi tanda dan makna, tetapi juga merupakan representasi kekuasaan yang dominan di masyarakat itu. Dan uang koin 25 sen ini merekam ini dengan sangat jelas. — at Damascus, Syria

Sumber : FB https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10206521574452410&id=1061954966&set=a.1249827120094.39171.1061954966&refid=28&_ft_=qid.6187330909949107447%3Amf_story_key.4261932712634329010%3AeligibleForSeeFirstBumping.&tn=%2As

Petisi #OpenGaza Mencapai 428.000 Dukungan


 Petisi online #OpenGaza yang diluncurkan di avaaz.org mendapat dukungan lebih dari 428.000 netizen

Petisi yang ditujukan ke para pemimpin negara-negara di dunia ini menginginkan agar blokade atas Gaza oleh Israel dicabut.

Setelah petisi untuk menangkap Benjamin Netanyahu, ini Petisi online yg tentang Gaza yang cukup Menyita perhatian Netizen dunia.

LSM internasional yang ikutan sumbang suara juga ga macem-macem, ini list  nya
Avaaz
Action Against Hunger (ACF)
ActionAid
Asamblea de Cooperacion por la Paz (ACPP)
Alianza por la Solidaridad
Broederlijk Delen
Christian Aid
COSPE, Cooperazione per lo Sviluppo dei Paesi Emergenti
CISP-Comitato Internazionale Sviluppo dei Popoli
CCFD-Terre Solidaire
Embrace the Middle East
Fobzu (Friends of Birzeit University)
French Platform of NGOs for Palestine
GVC
Heinrich Böll Foundation Palestine/ Jordan Office
HEKS/EPER
HelpAge International
Japan International Volunteer Center
Medical Aid for Palestinians (MAP – UK)
Medecins du Monde
Mennonite Central Committee (MCC)
Medico International
Norwegian Church Aid (NCA)
Norwegian People’s Aid (NPA)
Oxfam
Overseas
Pax Christi Flanders
Pax Christi International
Physicians for Human Rights – Israel
Rebuilding Alliance
Secours Islamique France
Terre des Hommes Italy
The Lutheran World Federation
The Palestine Solidarity Association of Sweden
The Swedish Organisation for Individual Relief/ IM - Swedish Development Partner
Trócaire
World Vision International


Indonesia mana suaranya?

Silahkan isi petisinya di sini http://t.co/ZbzJQ3EaAS



Hukuman Hacker Hamzah bin Dlaj Belum Pasti


Berita bahwa Hacker Hamzah bin Dlaj dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Amerika Serikat ternyata belum dipastikan kebenarannya. Begitulah kata Rassd.com mengutip saudara dari Hamzah bin Dlaj setelah melakukan konfirmasi dengan istri Hamzah bin Dlaj di Amerika Serikat.

Kata sang Istri, Hamzah bin Dlaj masih berada di penjara di negara bagian Georgia di USA. Begitu kata berita rassd.com

so.. mana yang benar? tunggu aja lagi :D

sumber : rassd.com

Monday, August 24, 2015

Adobe Flash Player? Disgusting.





Penghuni internet keknya ga lupa sama aplikasi satu ini Adobe Flash Player... cuma ya itu... dia suka install Mc Afee Plus tanpa persetujuan kita... padahal kadang kita ga perlu itu Mc Afee Plus...

Sekonyong-konyong ketika setuju install adobe flash player, seketika itu juga donlot dan install mc Afee plus... buat saya ya satu kata menjijikkan...

padahal di petunjuk instalasinya ga ada itu mesti install Mc Afee Plus

ah sudahlah....

Tuesday, August 18, 2015

Pengawalan Polisi dan Pasal Karet

Oleh : FACHRIZAL AFANDI

Sejak merdeka 70 tahun yang lalu, selalu ada mimpi di dada anak negeri untuk mendapatkan kesetaraan dan perlakuan yang sama di hadapan hukum. Meski berbagai dugaan kriminalisasi kasus, perlakuan istimewa bagi orang-orang tertentu dan penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat Negara nyaring terdengar hingga saat ini, nampaknya tak menyurutkan niat dan gerakan masyarakat sipil untuk terus mendorong reformasi hukum di negeri ini.

Secara mikro kita dapat melihat kondisi penegakan hukum termasuk kepatuhan dan cara Negara merepon konsep keadilan dengan melihat, mengamati atau bahkan mengalami proses pengaturan hukum lalu lintas di jalan raya. Melalui jalan raya kita dapat melihat tingkat kesadaran hukum masyarakat serta baik buruknya praktik penegakan hukum utamanya bagaimana asas equality before the law menjadi dasar Negara memperlakukan warganya.

Masih segar dalam ingatan kita, beberapa kasus kecelakaan yang melibatkan orang-orang dengan posisi dan latar belakang tertentu ditangani secara berbeda oleh aparat penegak hukum, beberapa perlakukan khusus yang tidak akan didapat jika yang mengalami perkara lalu lintas adalah masyarakat kecil yang tidak punya akses ke sumber kekuasaan..

Selain Negara yang cenderung pilih kasih, perilaku sebagian masyarakat pengguna jalan sebenarnya juga tidak ada bedanya. Sudah menjadi rahasia umum, jika sebagian pengguna kendaraan bermotor mendapatkan lisensi/izin mengendarai kendaraan bermotor dengan cara-cara yang instan. Hal yang kemudian berakibat pada kekurang pahaman mereka terhadap aturan keselamatan dan keamanan berkendara di jalan raya. Tidak heran jika kemudian di Indonesia, tindak pidana paling banyak memakan korban jiwa adalah tindak pidana kecelakaan lalu lintas. Hal ini patut menjadi perhatian untuk melakukan reformasi di bidang pengaturan dan penanggung jawab lalu lintas.

Contoh teranyar yang dapat kita amati saat ini adalah saat seorang warga Jogjakarta berusaha menghimbau peserta konvoi motor besar yang dikawal oleh aparat kepolisian untuk patuh pada petunjuk lampu merah agar tidak merugikan kepentingan masyarakat lainnya. Tindakan ini sebenarnya adalah salah satu letupan kecil protes dari masyarakat yang secara sadar dilakukan karena melihat adanya ketidak samaan perlakuan hukum yang diberikan oleh Negara dengan dasar status dan latar belakang seseorang.

Jika mau ditelisik secara seksama, sebenarnya sudah banyak aturan yang harus dipedomani oleh semua pengguna jalan raya termasuk aparat Negara dalam berperilaku di jalan raya termasuk bagaimana cara penegakan hukumnya. Namun kita masih sering mendengar pengabaian aturan hukum dengan alasan adanya pasal karet yang lentur yang bisa ditafsirkan sesuai pihak yang berkepentingan.
Hal yang sangat disayangkan mengingat 70 tahun yang lalu para founding father kita telah bersepakat untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara yang berdasarkan hukum yang salah satu cirinya adalah meminimalisir penggunaan diskresi berlebihan dari aparatur Negara dengan aturan dan guidelines yang jelas.

Pertimbangan/Diskresi Polisi sebagai landasan Hukum

Dalam rilisnya, Kapolri dan Humas Mabes Polri berusaha berkelit dengan menyatakan bahwa tindakan patwal moge di Jogjakarta sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mabes Polri mendasarkan tindakan mereka pada pasal 134 huruf g UU 22/2009 tentang lalu lintas jo,. Pasal 18 UU 2/2002 tentang Kepolisian jo Pasal 1 angka 10 PERKAP 10/2012 tentang pengaturan lalu lintas dalam keadaan tertentu. Untuk lebih jelasnya berikut akan diuraikan pasal-pasal tersebut;

Pasal 134 huruf g UU 22/2009 menyatakan pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut: konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Selanjutnya pasal 18 (1) UU 2/2002 tentang Kepolisian menyatakan untuk kepentingan umum pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri. Oleh karenanya tindakan pengaturan lalu lintas demi kepentingan patwal Moge di Jogjakarta atau tindakan patwal-patwal lainnya seperti dikemukakan Kapolri untuk kelancaran prosesi acara orang meninggal misalnya adalah sah dan sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sekilas tidak ada yang salah dari penjelasan tersebut, namun jika kita fair melakukan analisa hukum, ada yang kurang dari penjelasan Mabes Polri tersebut. Entah karena lupa atau tidak tahu tafsir otentik Pasal 134 huruf g UU 22/2009 yang termaktub dalam penjelasan pasal terebut dan catatan penjelas dalam pasal 18 (2) UU 2/2002 tentang batasan diskresi kepolisian tidak dicantumkan dalam rilis divisi Humas Mabes Polri.

Kenapa kedua hal ini penting, karena sesuai penjelasan pasal 134 huruf g UU 22/2009, UU memberikan batasan definisi “kepentingan tertentu” dengan arti kepentingan yang memerlukan penanganan segera, antara lain, Kendaraan untuk penanganan ancaman bom, Kendaraan pengangkut pasukan, Kendaraan untuk penanganan huru-hara, dan Kendaraan untuk penanganan bencana alam. Selanjutnya, definisi "menurut pertimbangan petugas Kepolisian" tidak bisa diartikan secara bebas bahwa polisi memiliki diskresi penuh dalam bertindak menurut penilaiannya sendiri tanpa kontrol. Pasal 18 (2) UU 2/ 2002 membatasi diskresi hanya dapat dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan, serta Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Belum lagi petugas Kepolisian sebagai bagian dari aparatur negara juga terikat dengan ketentuan UU 30/2014 tentang Administrasi Pemerintahan dimana dalam pasal 24 jo pasal 22 (2) disebutkan bahwa pejabat Pemerintahan yang menggunakan Diskresi harus memenuhi syarat:

a. sesuai dengan tujuan Diskresi yaitu untuk melancarkan penyelenggaraan pemerintahan; mengisi kekosongan hukum; memberikan kepastian hukum; dan mengatasi stagnasi pemerintahan dalam keadaan tertentu guna kemanfaatan dan kepentingan umum.
b. tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. sesuai dengan AUPB;
d. berdasarkan alasan-alasan yang objektif;
e. tidak menimbulkan Konflik Kepentingan; dan
f. dilakukan dengan iktikad baik.

Oleh karenanya jika pengambilan pertimbangan Polisi dalam patwal Moge tersebut tidak sesuai dengan tujuan wewenang dan bertentangan dengan asas umum pemerintahan yang baik dapat dikategorilkan sebagai diskresi yang mencampuradukkan wewenang yang secara hukum dapat dibatalkan (Pasal 31 UU 30/2014).
Demi menyambut semangat kemerdekaan RI ke 70, saya kira alih-alih membela diri dengan membabi buta, akan lebih baik jika jajaran Kepolisian RI sebagai Aparatur Negara melakukan evaluasi menyeluruh praktik-praktik keliru yang selama ini dijalankan. Sudah menjadi rahasia umum, jika masyarakat berpunya dapat menggunakan jasa pengawalan Kepolisian di luar kepentingan negara. Momentum ini akan sangat tepat jika Kepolisian RI mau mengembalikan fitrah petugas patroli pengawalan sesuai ketentuan per-undang-undangan dan tidak malah mengajari dan memberi contoh kepada masyarakat untuk melanggar undang-undang.

"Penulis adalah Dosen Hukum Pidana FH Universitas Brawijaya Malang"

Friday, August 14, 2015

Sunday, August 9, 2015

Penghinaan Terhadap Presiden

Menanggapi apa yang sedang diperdebatkan masyarakat, penghinaan terhadap Presiden, izinkan saya menyampaikan pandangan saya.
Prinsipnya, janganlah kita suka berkata & bertindak melampui batas. Hak & kebebasan ada batasnya. Kekuasaanpun juga ada batasnya.
Di satu sisi, perkataan & tindakan menghina, mencemarkan nama baik & apalagi memfitnah orang lain, termasuk kepada Presiden, itu tidak baik.
Di sisi lain, penggunaan kekuasaan (apalagi berlebihan) untuk perkarakan orang yang dinilai menghina, termasuk oleh Presiden, itu juga tidak baik.
Penggunaan hak & kebebasan, termasuk menghina orang lain, ada pembatasannya. Pahami Universal Declaration of Human Rights & UUD 1945.
Dalam demokrasi memang kita bebas bicara & lakukan kritik, termasuk kepada Presiden, tapi tak harus dengan menghina & cemarkan nama baiknya.
Sebaliknya, siapapun, termasuk Presiden, punya hak untuk tuntut seseorang yang menghina & cemarkan nama baiknya. Tapi, janganlah berlebihan.
Pasal penghinaan, pencemaran nama baik & tindakan tidak menyenangkan tetap ada "karetnya", artinya ada unsur subyektifitasnya.
Terus terang, selama 10 tahun jadi Presiden, ada ratusan perkataan & tindakan yang menghina, tak menyenangkan & cemarkan nama baik saya.
Foto resmi Presiden dibakar & diinjak-injak, mengarak kerbau yang pantatnya ditulisi "SBY" & kata-kata kasar penuh hinaan di media & ruang publik.
Kalau saya gunakan hak saya untuk adukan ke polisi (karena delik aduan), mungkin ratusan orang sudah diperiksa & dijadikan tersangka.
Barangkali saya juga justru tidak bisa bekerja, karena sibuk mengadu ke polisi. Konsentrasi saya akan terpecah.
Andai itu terjadi mungkin rakyat tak berani kritik, bicara keras. Takut dipidanakan, dijadikan tersangka. Saya jadi tidak tahu apa pendapat rakyat.
Kalau pemimpin tak tahu perasaan & pendapat rakyat, apalagi media juga diam & tak bersuara, saya malah takut jadi "bom waktu".
Sekarang saya amati hal seperti itu hampir tak ada. Baik itu unjuk rasa disertai penghinaan kepada Presiden, maupun berita kasar di media.
Ini pertanda baik. Perlakuan "negatif" berlebihan kepada saya dulu tak perlu dilakukan kepada Pak Jokowi. Biar beliau bisa bekerja dengan baik.
Kita semua harus belajar gunakan kebebasan (freedom) secara tepat. Jangan lampaui batas. Ingat, kebebasanpun bisa disalahgunakan.
Ingat, liberty too can corrupt. Absolute liberty can corrupt absolutely. Saya pendukung demokrasi & kebebasan. Tetapi bukan anarki.
Sebaliknya, pemegang kekuasaan jangan obral & salahgunakan kekuasaan. Kita sepakat, negara & penguasa tak represif & main tangkap.
Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely. Kekuasaan tidak untuk "menciduki" & menindas yang menentang penguasa.
Para pemegang kekuasaan (power holders) tak boleh salah gunakan kekuasaannya. Presiden, parlemen, penegak hukum, pers & juga rakyat.
Kesimpulan: demokrasi & kebebasan penting, namun jangan lampaui batas. Demokrasi juga perlu tertib, tapi negara tak perlu represif.
Diambil dari akun Twitter @SBYudhoyono, Minggu 9 Agustus 2015.

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=994806183918656&id=512463078819638&refid=7&_ft_=qid.6180977403169972214%3Amf_story_key.-7802624590853705303%3AeligibleForSeeFirstBumping.&tn=%2As

Tuesday, August 4, 2015

BLACKLIST BANK MEMBAWA BERKAH

Oleh Andi Micro
-----------------------
Bagi pengusaha, pandangan bahwa kredit bank adalah hal yang sangat penting untuk kemajuan usaha, adalah hal yang umum. Bahkan kredit sudah jadi kebutuhan primer masyarakat, mau beli motor, mobil, rumah, modal usaha, dll. Bagaimana ketika kena Blacklist BI akibat menunggak kredit? Kebanyakan sih berfikir kalang kabut, ntar ga bisa kredit lagi. Saya juga begitu awalnya beberapa tahun yang lalu, dan ketika kena Blacklist, dan benar2 tidak bisa berkutik, mau bayar ga ada duitnya, cari kemana2 ga dapat2, ya udah pasrah saja.

Disitu baru kita tahu, bagi Bank jika nasabah tidak bisa bayar, maka asumsi utamanya cuma satu : "NASABAH TIDAK MAU BAYAR, bukan TIDAK MAMPU BAYAR" Akibatnya apa? Banyak kan yang ditagih2 dengan keras, dibilang penipu, dusta, janji2 mulu, dan sejuta caci maki oleh debt collector. Iyalah, kita dianggap ngemplang bayar, bukan dianggap tidak mampu bayar, makanya kudu dipaksa2 buat mau bayar. Belum lagi bunga berbunganya, yang ada aja ga mampu dibayar, udah dibungai lagi gara2 telat bayar. Bank sahabat pengusaha? Pikir lagi. # sorry

Dari peristiwa itu saya sadar betapa bodohnya saya diperdaya ilusi kredit. Alhamdulillah, mungkin itu jalannya dari Allah untuk memaksa saya menjauhi Riba. Karena tidak bisa kredit lagi, satu2nya jalan adalah jual aset. Habis2an jual aset buat bayar utang, biar kere tapi happy. Akhirnya benar, hutang saya sebagian sudah lunas, aset amblas, mulai dari nol seperti kata pegawai SPBU sebelum isi bensin.

Tapi yang namanya Rezeki itu sudah dibagi. Meskipun hidup serasa diujung tanduk, makan tahu tempe tiap hari, Alhamdulillah ada aja tawaran pekerjaan, mulai yang kecil2, sampai yang besar. Kebutuhan modal diatasi dengan pinjam teman, sistem bagi hasil, ga pake lihat BI checking dulu, jaminannya mulut ama leher saya, aman....

Dari perputaran bisnis dengan modal teman2 dan saudara, akhirnya tumbuh lagi, bahkan lebih pesat daripada dulu2. Sayapun bisa menyisihkan keuntungan usaha untuk investasi dan tabungan. Meskipun masih ada beberapa tagihan dan cicilan sisa2 zaman jahiliyah dulu, tapi InsyaAllah akan saya "habisi" kedepannya.
Blacklist Bank tidak berarti kita tidak bisa memanfaatkan fitur2 keuangan bank, utamanya lalu lintas dana, tapi mencegah kita untuk mendapat kredit, that's it.

Kenapa harus pusing jika tidak bisa kredit? Toh kredit itu adalah menabung secara paksa, kalo ga nyetor ya kena denda, di maki2, dan di permalukan. Anda pernah mikir ga, kalo cicilan motor misalnya kurang 1 bulan, tapi anda menunggak, akibatnya apa? Motornya ditarik kan, seolah2 anda ga berhak apapun atas motor itu karena perjanjian kreditnya adalah SEWA-BELI, selama belum lunas, barang itu dianggap sewa. Edyaaaannnn....

Kita (harusnya) bisa menabung sendiri tanpa perlu dipaksa. Untuk menghindarkan dari virus inflasi, saya tabung dalam bentuk emas batangan, sedikit2 1-5 gram, kalo ada duit, beli lagi, sampai nilainya mencukupi saya untuk beli sesuatu, motor misalnya. Emas tahan inflasi, jadi nilainya akan mengikuti kenaikan inflasi. Tabungan emas saya juga tidak disedot uang administrasi bla...bla...bla... wong disimpen sendiri.

Modal usaha? Kakek saya tidak pernah urusan sama bank. Beliau menyisihkan sebagian dari hasil bertani kecil2an. Bisa tuh punya sawah berhektar2 dan sapi beberapa ekor. Banyak pengusaha2 sukses yang berangkat dari strata bawah a.k.a miskin yang jelas dan pasti tidak bakal di lirik petugas bank untuk ditawari kredit, bisa tuh sukses. Masa kita tidak bisa? Balik lagi aja ke era Dinosaurus.

Memang menghindari Riba 100% mungkin hal yang mustahil hidup di Indonesia ini, tapi usaha keras kita kearah situ sudah sangat berharga, setidaknya untuk menjauhkan kita dari dosa yang besar, agar rezeki yang didapat bisa barokah untuk kita, keluarga, dan keturunan2 kita kelak. InsyaAllah.

Wednesday, July 22, 2015

Forced to Accept Islam

READ THIS TRULY AMAZING STORY ABOUT A BRIGHT AND VERY INTELLIGENT, SINCERE AMERICAN WOMEN WHO WAS FORCED TO ACCEPT #ISLAM . FORCED? Are Muslims REALLY forcing people in America to accept ISLAM ??? Read the story below to find out what's really going on. Please don't forget to share!

I was forced to accept Islam
By Danielle LoDuca

I never aspired to be a Muslim.
I didn’t even want to be a Christian.
The whole concept of ‘organized religion’ was distasteful. I sought to use my mind, not resort to some ancient book for assistance in living my life.
If you had offered me millions of dollars to join one faith or another, I would have declined. One of my preferred authors was Bertrand Russell, who maintained that religion is little more than superstition and generally harmful to people, despite any positive effects that it might have. He believed that religion and the religious outlook serve to inhibit knowledge and promote fear and dependency, in addition to being accountable for much of our world’s wars, persecution, and misery.

I remember laughing out loud while reading “Hey, Is That You God?” By Dr. Pasqual Schievella, in which he derided the concept of God through satirical dialogue. It all seemed so logical. Thinkers like us were surely above religious devotees, I thought smugly.
But, for me, it wasn’t enough to just think I was better off without religion. I wanted to systematically prove religions were no more than a hoax. I purposefully set out to do just that.

Yet, here I am. Muslim.
Sure, I made the declaration of faith, but the choice I had was really no choice at all. Essentially, I was compelled – forced to accept Islam.
Interestingly, in my talks with followers of religions, especially those other than Islam, I have often noticed that they clearly desire to believe. As if, no matter how many contradictions or errors are pointed out in their scriptures, they brush them aside and maintain their unquestioning faith.

Rarely do I ever find that the scriptures themselves convinced them, but rather they decided to have faith, and then the studies began after that decision, if at all. They knew what they believed, either by having been raised upon it, or like a friend of mine told me, “Islam seems foreign, so I never looked into it. Christianity is more familiar and convenient, because most of the people around me are Christian. So when I was seeking God, I chose # Christianity .”
Personally, I never considered myself to be seeking God, but if I had, the last place I think I would have looked would have been in an old book, or a building, or a person.

Some people, who decide to believe in something at the outset, may then develop selective vision when it comes to learning the faith they’ve chosen. I had also decided to believe something; I chose to believe that religions were simply fabricated delusions of grandeur.
In actuality this notion was not built on hard facts, it was an assumption. I had no evidence. When I undertook reading the religious books, I was not biased towards them, but my intentions were to look for flaws. This approach helped me manage to maintain a fair amount of objectivity.

My paperback translation of the # Quran had been acquired for free. I didn’t even stop to chat with the MSA students standing at the table stacked with books. I curtly asked, “Is it free?” When they replied in the affirmative, I grabbed one and continued on my way. I had no interest in them, only the free book to assist me in accomplishing my goal of debasing religions once and for all.

But, as I read that Quran; as its cover became worn and its pages tattered, I became more and more subdued. It was distinct from the other religious books I had also collected. I could understand it easily. It was clear.

A friend of mine once began ranting about how # God in Islam is angry and vengeful. I came to its defense without even realizing it, opening it up and easily flipping to one of the many pages that said, “Surely, Allah is Forgiving, Merciful.” It was if the Quran was speaking to me directly – responding to my life. It was an “old book” but somehow, it was entirely relevant. Something about its cadence and imagery and the way it communicated to me intimately; It was exquisite beauty I hadn’t really felt before, reminiscent only of the moments I had spent out west, staring out over a seemingly endless desert landscape. I found it exhilarating; comparable to the way it felt running barefoot in the sand under the stars with powerful waves crashing at my side.

The Quran was appealing to my intellect. Offering me signs and then telling me to think, to ponder and consider. It rejected the notion of blind faith, but encouraged reason and intelligence. It directed humanity towards goodness, recognition of the Creator, plus moderation, kindness, and humility.

After some time, and life-changing experiences my interest intensified. I began reading other books about Islam. I found that the Quran contained prophecies, as did many of the hadiths. I found that the prophet Muhammad was corrected several times in the Quran. This seemed strange if he had in fact, been its author.I had begun walking down a new path. Led by the amazing Quran, paired with the # beautiful paradigm of devotion; the Prophet Muhammad. This man showed no signs of being a liar.Praying through the nights, asking forgiveness of his oppressors, encouraging kindness. Refusing wealth and power and persevering with the pure message of devotion to God alone, he endured unfathomable hardship.

It was all so uncomplicated, easy to understand. We’ve been created; all this intricacy and diversity could not pop out of nothing. So follow the One who created us – Simple.
I remember the warm artificial lighting in my apartment and the weight of the air on the night I read this verse:

{Have those who disbelieved not considered that the heavens and the earth were a joined entity, and We split them asunder and made from water every living thing? Then will they not believe?} (Quran 21:30)

My mind was split asunder when I read this. It was the # BigBang – suddenly not just a theory… And every living thing from water… wasn’t that what scientists had just discovered? I was astonished. It was the most exciting and yet frightening time of my life.I read and studied and double-checked book after book until one night I sat in my library at Pratt Institute, staring wide-eyed at the piles of open books. My mouth must have been dropped open slightly. I couldn’t believe what was happening. I realized I had in front of me, the truth. The truth I had been so sure did not exist.

Now what?
There were only two choices and one was no choice at all. I could not deny what I had discovered, ignoring it and going on with my life as before, though I did consider it briefly. That left only one option.I knew I had to accept it, because the only alternative was denying truth.

Editor’s note: Danielle LoDuca is a third generation #American , raised in a homogeneous, white, suburban community. Although raised as a #Catholic , she considered herself agnostic and was disdainful of # religion in general until she chose Islam in 2002. She is an artist with a BFA from Pratt Institute, as well as a wife and mother of five. Her views are her own.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152891116501104&id=207242941103&refid=28&_ft_=qid.6174221377071893943%3Amf_story_key.2982577602488366093%3AeligibleForSeeFirstBumping.&tn=%2As