Thursday, August 18, 2011

M E L I H A T D U N I A (bagian 3) Izzan, usia 3 - 4 tahun




Oleh : Yanti Herawati


Karena sering menyakiti dan membuat onar di antara teman-temannya, terjadilah sesuatu yang tidak pernah saya duga akan menimpa Izzan. Entah bagaimana, anak-anak kecil berusia 3-5 tahun itu membuat kesepakatan. Kesepakatan mereka adalah membalas perlakuan Izzan terhadap mereka, dengan mengeroyok Izzan beramai-ramai. Sekalipun saya berada di sekolah sebagai “helper” Izzan, kejadian tersebut terlambat saya ketahui. Hanya anak lelaki saja yang mengeroyok Izzan, sekitar 4-6 anak. Izzan sendiri tidak terluka. Namun sempat dia mogok tidak suka berada di kelasnya. Nampaknya ada sedikit perubahan pada Izzan setelah pengeroyokan itu. Korban-korban gigitan dan dorongannya bertambah ke anak-anak di kelas-kelas yang lebih besar.







 Setelah umurnya 3 tahun, ada tempat lain yang biasa Izzan kunjungi di Sekolah Alam. Perpustakaan Sekolah! Entah bagaimana caranya, Izzan mulai tertarik dengan buku-buku bergambar yang ada di sana. Biasanya dia akan menuntut minta diberi tahu gambar-gambar yang ingin diketahui namanya atau kejadiannya. Kalau dibacakan secara menyeluruh masih belum mau. Izzan hanya butuh informasi apa yang ingin diketahuinya. Alhamdulillah kalau saya tidak ada, Ibu Nia, istri kepala sekolah, karyawan perpustakaan atau petugas TU, atau orang tua lain biasa berada di sana. Mereka akan membacakan informasi yang Izzan butuhkan. Biasanya Izzan akan bertanya terus menerus sampai dia puas.

Ketika Izzan berusia 3 tahun 2 bulan, di komplek kami diadakan semacam screening psikologi untuk mengetahui profil psikologis anak-anak di komplek. Dari hasil observasi mereka, dikatakan Izzan memiliki rentang perhatian yang pendek. Gampang terganggu perhatiannya. Sulit mempertahankan posisi atau tidak bisa tenang sedikitpun. Ada kecendrungan hiperaktivitas. Sulit diajak berkomunikasi, dan memahami instruksi secara verbal, juga tidak mau bekerja sama, sulit dan tidak sabar menunggu giliran yang sering membuatnya menjadi agresif, dll.


Namun hasil pemeriksaan ini saya abaikan. Karena saya merasa penilaian atau kesimpulan mereka terlalu cepat dalam mengobservasi Izzan. Saran untuk menindaklanjuti observasi Izzan ke Klinik Indigrow yang disarankan psikolog Nahda dan Dina, juga tidak saya tindaklanjuti. Saat itu, saya melihat apa yang dilakukan Izzan, bukanlah suatu kelainan. Izzan hanya butuh waktu saja untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan. Izzan hanya sedikit berbeda, butuh waktu untuk berkembang, bukan mengalami kelainan.


Sikap saya diatas jelas mendapat kritik banyak orang, termasuk pihak keluarga yang menganggap saya terlalu membiarkan Izzan untuk berbuat semaunya. Sulit bagi saya bisa menjelaskan kepada mereka. Meminta mereka untuk memahami pola tumbuh kembang Izzan yang tidak biasa seperti anak-anak lain. Saya hanya merasa ada “sesuatu”  pada diri Izzan. Sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Bagi saya Izzan seperti “menyimpan energi” yang akan membuat saya tidak bisa membatasi atau banyak melarang perilakunya yang sangat eksploratif. Kontak batin antara saya dengannya begitu kuat. Dunia saya menjadi begitu sempit, karena sedikit yang bisa memahami kami. Dunia saya adalah dunia Izzan. Dan dunia Izzan adalah dunia saya. Saya adalah benteng pertahanan terakhir yang dimiliki Izzan untuk menghadapi dunia. Saya bisa memahami Izzan, namun saya tidak bisa memberi pemahaman itu pada dunia.


Sejak berumur 1 hingga 3 tahun sekarang, rambut Izzan dibiarkan panjang tidak dipotong. Karena Izzan menolak dengan keras untuk dicukur atau dipotong rambutnya. Kami khawatir Izzan yang tidak bisa duduk diam dan tenang sejenak saja akan terluka selama dicukur. Dan saya takut itu terjadi. Suatu saat ketika dia tidak masuk sekolah karena beberapa alasan. Saya terkejut ketika pulang dari sekolah. Izzan sudah berambut pendek! Dipotong berantakan. Siapa yang memotong rambutnya sampai pendek begitu?


 Sambil mengelus dada dan wajah yang bingung, Teh Endah mengatakan. Kalau  Izzan sendiri yang menggunting rambut gondrongnya sampai pendek! Tanpa sempat diketahui oleh si bibik. Saya dekati Izzan yang cengengesan sambil menganggukkan kepala dan berkata.” Aku pakai gunting itu potong rambutnya !” Saya periksa kepala, leher, dan wajahnya. Tidak ada yang terluka sedikitpun. Yah... saat itupun saya tidak bisa memarahinya. Izzan begitu polos dan lucu di mata saya. Bukan anak nakal. Saya bahkan ikut tersenyum simpul membayangkan kelakuannya. Meskipun hati rasa kecut dan getir, mengingat resiko terluka karena gunting yang  bisa mengenai kepala, mata, kuping, leher, jari-jari  dan tangannya.


Untuk memahami karakteristik anak-anak kebutuhan khusus, maka Sekolah Alam mengundang 3 ahli. Salah satunya adalah seorang dokter anak spesialis saraf di Bandung. Seperti biasanya, Izzan akan ikut berada di ruangan tempat kami berkumpul. Kali ini sebenarnya dia tidak berlari-lari, melainkan hanya duduk sambil bermain dengan sobatnya, Hanifah, putri Kepala Sekolah. Mereka membuat kapal-kapalan dan menirukan bunyi pesawat terbang, dengan suara khas anak-anak. Kami yang sudah terbiasa dengan iklim Sekolah Alam, dan mencintai suara anak-anak, sama sekali tidak terusik dengan suara Izzan.


Tidak demikian halnya dengan ibu dokter. Tiba-tiba dia menghentikan ceramahnya dan berkata:” Yang mana ibu anak itu? Saya terganggu dengan suaranya. Mana Ibu anak itu? Sakit kepala saya mendengar suaranya, bawa anak itu keluar dari sini. Saya tidak bisa meneruskan jika anak itu masih di sini!”


Para peserta workshop saling berpandangan, ruangan menjadi hening seketika. Meskipun suara Izzan dan Hanifah masih terdengar. Saya dan Nia Ibunya Hanifah, segera keluar ruangan yang berupa saung 2 lantai dengan membawa anak kami masing-masing. Perasaan saya campur aduk. Saya tidak bisa menerima perlakuan ini! Jiwa saya ingin memberontak! Begitu burukkah Izzan di matanya? Saya ingin membela diri dan menjelaskan kepadanya. Namun, Nia langsung membawa saya turun ke bawah, ke ruangan lain.


Dengan menahan perasaan karena serasa dipermalukan di depan umum, saya mencoba memahami kenyataan yang ada. Dokter itu diundang Sekolah Alam untuk menjadi sumber rujukan dalam memahami anak-anak berkebutuhan khusus di sini. Termasuk Izzan. Nia mampu menenangkan saya dengan baik. Walaupun terus terang saya sebenarnya tidak bisa menerima perlakuan dokter itu.


Akhirnya dilakukan sessi konsultasi khusus antara saya, pihak sekolah dan dokter saraf anak tadi. Beliau mendengar uraian singkat tentang perilaku Izzan dengan seksama. Menurutnya Izzan sudah masuk kategori lampu merah, harus diperiksa lebih lanjut dan ditangani dengan segera. Perilaku Izzan mengindikasikan ada masalah genting yang harus diperiksa secara serius dan seksama. Itu tidak wajar dan membahayakan. Lagi-lagi saya ingkar untuk mengikuti anjuran para ahli. Kali ini peringatan dari dokter ahli saraf anak. Saya tidak membawa Izzan periksa dan berobat kepadanya. Pihak sekolah juga tidak memaksakan saya untuk pergi ke sana. Entah kenapa, saat itu saya begitu bebal untuk mendengarkan saran atau anjuran orang lain.


Ternyata tidak hanya Izzan yang bersikap berbeda dan sangat aktif dari anak-anak lain pada umumnya. Sejak Fadhil bayi, kami selalu berdoa dan berharap bahwa Fadhil tidak akan menjadi seperti Izzan. Namun harapan kami meleset, setelah usia Fadhil satu tahun, dia juga berperilaku hampir seperti Izzan. Mereka menjadi partner dalam menciptakan momok bagi ketenangan lingkungan. Ketika adik perempuan suami menikah, bahkan kedua anak itu diminta oleh mertua, untuk tidak berada selama prosesi acara pernikahan di karanganyar Solo. Sekalipun kami sudah datang dari Bandung. Saya dan suami yang paham akan karekteristik kedua anak itu membawa mereka tetap dipenginapan dan berjalan-jalan keliling kota. Tetapi kami bisa menghadiri pesta pernikahan mereka di Gedung.


Menginjak usia 3 tahun 3 bulan, Izzan sudah mulai bermain secara kelompok dengan teman-temannya. Permainannya antara lain adalah mencabuti pagar sekolah, pagar saung, dan merusak properti sekolah. Batang bambu atau kayu akan diceburkan ke kolam sekolah. Kadang dialirkan ke aliran air berupa kali kecil di halaman sekolah. Atau dijatuhkan dari atas saung secara bersamaan, atau bergantian. Kalau dulu Izzan melakukannya sendirian, kali ini dia mengajak teman-temannya. Maka dinding saung yang tersusun dari potongan bambu itu pun bolong-bolong dibeberapa tempat.


Setelah beberapa hari kegiatan itu terus berlangsung, dan guru pun kesulitan menangani anak-anak itu. Begitu diadakan pemeriksaan semacam investigasi dikelas, ternyata semua anak-anak lelaki menjadi pelaku utama. Dan inisiator atau dalangnya adalah Izzan. Izzan kecilku menjadi pemimpin dalam banyak aksi-aksi yang dipandang sebagai “pengrusakan” dari kaca mata mainstream. Kami selaku dewan kelas biasanya akan bergotong royong iuran untuk mengganti kerusakan yang diakibatkan anak-anak kami. Sebagian besar orang tua hanya tersenyum geli mendengar kelakuan anak mereka.


Kadang Izzan mengajak anak-anak untuk bersama-sama melemparkan batu, batang, biji, atau benda apa saja ke atap saung. Suara batu dan benda yang membentur atap dan batu-batu atau benda yang kembali menggelinding kebawah membuat anak-anak itu takjub. Kadang ada lemparan yang tidak sampai ke atap, namun malah masuk ke  kedalam  saung. Sehingga mengenai anak perempuan yang masih di dalam kelas. Ada juga lemparan anak-anak yang mengenai dinding bambu atau kayu yang keras. Kembali memantul dan jatuh kebawah.


Anak-anak begitu gembiranya dengan permainan ini. Guru-guru di sekolah tidak banyak melarang perilaku eksploratif ini. Tanpa sadar anak-anak itu belajar perubahan gaya dan pola lintasan gaya dari lemparan mereka. Mereka belajar gravitasi tanpa sadar. Bagaimana benda yang dilempar keatas, akan turun kembali ke permukaan bumi. Mereka belajar fenomena fisika dengan mengamati langsung dari alam.


Dirumah,  Izzan belajar naik sepeda roda dua. Khas gaya Izzan belajar. Dia akan belajar saat itu juga sampai bisa. Tidak peduli akan jatuh berkali-kali.  Gayanya main serobot saja, seperti  tidak memperhitungkan resiko akan jatuh atau  terluka.  Sore  itu juga  Izzan bisa mengendalikan sepeda roda duanya. Kami terpingkal-pingkal dan mengeleng-gelengkan kepala menyaksikan cara Izzan belajar sepeda yang seperti  tidak mengenal  takut dan ragu, sangat berani.


Di bulan Februari 2006, Sekolah Alam outing ke Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPA IPTEK) Sundial di Kota Baru Parahyangan. Kali ini saya tidak bisa mengantar dan menemani. Kabar dari guru yang saya dengar ketika menjemput Izzan disekolah, adalah bahwa Izzan sangat bersemangat dan antusias selama berada di sana. Bahkan Izzan sangat sulit diajak pulang kembali ke sekolah. Izzan menolak dengan keras untuk meninggalkan PUSPA IPTEK. Setelah dibujuk, dan dijanjikan berkunjung kembali keesokan harinya, barulah Izzan mau pulang.


Izzan mengatakan suka sekali di PUSPA IPTEK dan meminta saya berjanji kepadanya untuk kembali kesana. Sayang kesibukan  membuat saya mengabaikan kebutuhan intelektual Izzan. Saya hanya berjanji kepadanya, namun hingga bertahun-tahun kemudian kunjungan ke PUSPA IPTEK tidak pernah saya penuhi. Izzan masih mengingatkan dan menagih beberapa kali, namun kesibukan saya membuat kebutuhan Izzan menjadi prioritas ke sekian.


Di Sekolah Alam saya menjadi kordinator outing sekolah, anggota dewan kelas, dan menangani pendokumentasian kegiatan dan perpustakaan. Outing ke Pengolahan Air Limbah (Waste Water Treatment) di Bojong Soang sangat menarik buat anak-anak. Saya membawa anak-anak survey lokasi terlebih dahulu. Kolam air kotor yang dibangun diatas lahan seluas 85 ha sangat besar. Sistem pengolahan limbah secara bertahap kedalam kolam-kolam hingga menjadi air bersih kembali mencengangkan anak-anak. Mereka belajar langsung dari dunia nyata dengan melihat dengan mata, telinga, dan hati mereka. Izzan yang saat itu 3 tahun 4 bulan begitu takjub dan antusias diajak menyusuri jalan-jalan di tengah kolam yang bisa dilalui mobil. Luar biasa, air limbah yang semula kotor kehitaman, bisa berubah menjadi hijau kebiruan.


Bulan April 2006 ini, kami bersiap membawa anak-anak sekolah alam Outing ke Galeri IPTEK Sabuga ITB dan menyaksikan Teater Kubah 3 Dimensi. Umur Izzan sekarang 3 tahun 5 bulan. Kebiasaan mengumpulkan batu-batu terus dilakukannya, terutama di pagi hari. Begitu tiba di sekolah biasanya Izzan berkeliling mengumpulkan batu-batuan dulu. Itu yang membuatnya sulit mengikuti ritual pagi bersama teman di sekolah alam. Ritual pagi yang harus dikerjakan murid di sekolah adalah berdoa, hapalan ayat Alquraan, belajar membaca Alquraan dengan metode Iqro, Sholat Duha, dll. Untuk Izzan, guru akan menyesuaikan dengan gaya Izzan. Guru akan mendampingi Izzan sambil mengikuti kemana Izzan bergerak.


Izzan berkali-kali memanggil saya pagi itu. Di tasnya sudah penuh batu-batuan. Dia susah payah mengangkat tasnya. Saya yang sedang sibuk mengkoordinir keberangkatan murid sekolah ke Sabuga, memintanya untuk bersabar menunggu di bawah. Kemudian, terdengar tangisan dan teriakan Izzan yang keras sekali, memecah kesibukan dan konsentrasi saya. Diiringi suara kebingungan beberapa guru yang coba menenangkan Izzan. Guru-guru tidak mengerti apa yang terjadi pada Izzan, sehingga Izzan mengamuk. Ketika saya turun, salah seorang guru memegang tas berat Izzan yang berisi bebatuan. Seorang lainnya sedang membujuk Izzan yang menangis histeris.


Saya tersenyum geli setelah mendengar kronologis cerita dari ibu Nia, jelaslah duduk persoalannya. Izzan yang sudah mengumpulkan batuan dan memasukkannya kedalam tas, ngotot membawa tas beratnya itu ke Galeri IPTEK Sabuga. Guru-guru yang prihatin melihat Izzan yang tidak sanggup mengangkat tasnya, berniat baik membawakan tas berisi batuan itu. Atau meminta Izzan untuk meninggalkan saja tas beratnya di sekolah dan tidak usah dibawa ke Sabuga. Izzan menganggap batuan yang dikumpulkannya adalah benda yang sangat berharga. Dia tidak bersedia tas berisi batuan itu dibawa orang lain atau ditinggalkan disekolah.


Akhirnya saya memutuskan tas itu tetap dibawa, dan saya yang akan membawanya. Izzan hanya percaya sama ibunya untuk membawa tas berisi batuan itu. Begitulah, saya membawa tas berat itu dari bawah. Mendaki jalan yang menanjak menuju ke tempat parkir. Menaruhnya diatas pangkuan selama di kendaraan. Mencangklongnya selama menangani urusan administrasi. Memanggulnya selama melihat peralatan IPTEK. Menyimpannya di bawah kursi selama melihat film tentang Grand Canyon yang menakjubkan di teater Kubah. Bukan main beratnya tas itu... Izzan .. Izzan..


Saya, Bu Tati dan Pak  Isa guru musik, berniat meluncurkan sebuah album lagu hasil karangan Nanda dan teman teman sekelasnya. Anak-anak itu menulis lirik yang bagus sekali. Sehingga saya tergerak untuk meminta Pak Isa membuat melodi dan aransemen lagunya. Anak anak dari kelas satu dan kelas enam berlatih selama 2 minggu untuk  mempersiapkan rekaman album ini. Izzan juga terlibat dengan caranya sendiri. Dia mengamati proses latihan, tanpa mau ikut menyanyi. Dia mengamati para  pemain musik dan dengan lincah memainkan gitar, biola, bass gitar, gendang, dan keyboard.


Saya dan Mursid suamiku, menanggung semua biaya pembuatan album ini dari kantung pribadi. Kami ingin anak-anak terlibat  proses produksi dari suatu  karya musik. Mulai dari menulis liriknya, membantu membuat  melodi atau musiknya,berlatih bernyanyi, koreografi, membuat rancangan cover CD album, mengurus proses perekaman distudio musik, penjualan dan lain-lain. Sekalipun Izzan hapal ke 10 lagu dari album ini, namun dia tidak mau menyanyikannya saat proses perekaman di studio. Dia hanya mau melihat saja semua proses perekaman di studio “Aru” dijalan Riau.


Aktivitas Izzan lainnya selama di sekolah adalah  berada di dalam kelas-kelas yang lebih tinggi  dari kelasnya. Izzan bisa saja berada dikelas 1, 2, 3, 4, hingga berada di kelas 6. Seringnya  dia berada dikelas kakaknya, kelas 3 SD. Guru-guru tak ada yang keberatan dengan gaya Izzan yang seenaknya sendiri mau berada dimana. Kami juga tidak tahu kenapa Izzan, suka berpindah-pindah begitu, keluar masuk ke kelas-kelas yang lain.


Pernah suatu  sore, ketika akan pulang,  kami melewati kelas IV SD yang bangunannya terbuka berupa saung. Pada dinding kelas itu ada banyak  poster  berwarna dari planet planet  dalam sistem tata surya. Dengan lancar Izzan yang saat itu berusia sekitar  3 tahun 6 bulan menyebutkan satu persatu nama planet-planet yang ada pada poster. Karena saya tidak  begitu yakin apakah Izzan hanya menyebutkan nama planet  tanpa tahu planetnya yang mana, maka saya mengajaknya masuk ke dalam kelas.


Saya minta dia menunjuk nama- nama planet yang ada disitu. Ternyata dia memang mengetahui semua planet yang ada di tata surya, karena menunjuk gambar yang benar. Saat itu dia belum bisa baca, sehingga dia tidak membaca dari label yang ada. Mungkin Izzan berada di kelas ini, saat Pak Aldino guru sekolah yang dari astronomi ITB menjelaskan pada siswa kelas IV  materi tentang tata surya. Sebenarnya saya cukup heran dengan kemampuan Izzan mengenal secara detil  planet-planet dalam tata surya. Entah bagaimana cara dia mempelajarinya. Apakah dengan melihat proses belajar dikelas IV sebelumnya?.


Jika dirumah maka banyak kesibukan yang Izzan kerjakan. Kamar mandi, dapur, ruang tengah, kamar, halaman semuanya dijadikan laboratorium eksperimennya. Sofa ruang tamu sudah habis dibolongi dan sobek-sobek. Dia buka karena ingin tahu materi penyusun sofa yang bisa membuat empuk. Kursi makan rusak semua karena selalu dijungkirbalikkan, didorong, dibuatnya mobil-mobilan, kereta-keretaan dan segala macam objek fantasinya. Barang-barang dapur bisa bertebaran dikamar mandi, diruang tamu, di kamar. Karena Izzan akan memainkannya menjadi berbagai macam fungsi. `


Jika sudah bermain dikamar mandi banyak sekali yang dia kerjakan. Izzan akan menyumbat saluran pembuangan, dan menjadikan kamar mandi sebagai kolam renang. Nanti  sumbat akan dibuka mendadak dan dia akan gembira melihat pusaran air yang mengelilingi lubang saluran pembuangan. Menenggelamkan berbagai  benda ke dalam bak mandi, dan melihat semua reaksi benda-benda yang dimasukkannya. Memasukkan air ke dalam berbagai botol atau stoples dengan isi yang berbeda-beda.  Mengguncang-guncangkannya dan melihat reaksinya. Kadang memasukkan pasir atau tanah ke dalam botol berisi air dan mengguncang-guncangkannya sambil takjub melihat reaksi pasir yang mengerucut didalam botol. Banyak sekali hal-hal lain yang dilakukannya.


Di ruangan tengah, kadang Izzan mengikat tali diantara kursi-kursi. Panjang pendek tali berbeda-beda dengan ketegangan yang berbeda-beda juga. Tali itu digetarkan dengan membuat usikan di pinggir, usikan ditengah. Usikan itu  dibuat  dengan cara yang berbeda beda pula simpangannya. Izzan akan melihat semua getaran gelombang yang merambat pada tali. Semua dilakukannya atas idenya sendiri. Kami hanya membiarkan saja apa yang Izzan lakukan.


Kadangkala Izzan  membuat semacam gendang dari kaleng susu atau kaleng biskuit. Gendang itu dipukul-pukulnya dengan kekuatan yang berbeda-beda. Bunyi yang terdengar jadi berbeda-beda. Gendang itu kemudian dilapisi kain diatasnya. Maka Bunyi  yang muncul menjadi berbeda juga. Mulailah Izzan bergantian mengganti penutup  gendang dan memukulnya. Mulai dari koran, selimut, sarung, hingga bantal dia ujicobakan. Begitu bahagianya karena mendengar berbagai sumber bunyi  dengan warna yang berbeda beda. Kadang Gendang itu akan ditaruhnya diatas perut, diatas kepala, diatas dada sambil dipukulnya.


Menuang  air keberbagai wadah adalah kegiatan yang sangat sering dilakukannya. Tanpa sadar anak-anak belajar konsep dan sifat air. Bahwa air akan mengisi dan mengikuti bentuk wadah. Main pancuran air dari selang yang diputar dengan bukaan yang berbeda-beda dari keran. Tekanan air yang berbeda akibat perbedaan bukaan keran menimbulkan pola pancuran air yang berbeda. Tanpa sadar anak-anak belajar tekanan. Masih banyak  sekali kegiatan-kegiatan yang dilakukannya dengan idenya sendiri. Semuanya itu dilihat dan diamatinya. Kelak dikemudian hari, eksplorasi-eksplorasi yang dilakukannya semasa dia kecil, sangat memudahkan Izzan memahami konsep-konsep fisika klasik yang dipelajarinya.


Izzan mulai malas ke sekolah. Dia mulai sering membolos, dan memilih tinggal dirumah. Akhirnya dibulan Juni, ketika usianya menginjak  3 tahun 8 bulan Izzan memutuskan keluar dari sekolah alam dengan 4 alasan yang dia kemukakan.Pertama, semua batu-batu  disekolah alam sudah dibawa pulang olehnya. Tidak ada lagi baru menurut Izzan. Saya pikir maksudnya jenis-jenis batuan yang ditemui  disekolah alam sudah  dia koleksi, sehingga dia tidak menemukan jenis batuan baru  yang menarik untuknya lagi.


Kedua, Izzan kasihan sama adiknya Fadhil. Selalu  ditinggal  sendirian dirumah sama pembantu. Padahal  de Fadhil  sudah bisa diajak main. Saat itu  Fadhil  sudah berusia 18 bulan. Ketiga, Mau melakukan pengamatan dan dirumah saja, dan dilingkungan lain. Keempat, Izzan malu tidak naik kelas. Semula saya pikir tidak masalah buat Izzan kalau dia tidak dapat naik kelas ke TK B. Namun perkiraan saya salah. Izzan  kecewa karena tidak naik kelas. Saya sedikit bingung dengan reaksinya. Karena bagaimana dia bisa naik kelas, kalau  tidak mau atau jarang sekali bisa mengikuti  kurikulum yang sudah ditetapkan. Guru  dikelas memperlihatkan pada saya laporan kemajuan belajar Izzan. Guru tersebut juga menyebutkan masalah keterbatasan komunikasi  2 arah pada Izzan. Sehingga sulit bagi  guru memahami apa yang Izzan fikirkan maupun sebaliknya.


 Saya agak bingung juga mendengar  pernyataan guru tentang keterbatasan kemampuan komunikasi 2 arah antara beliau dengan Izzan. Saya sendiri mampu memahami Izzan dengan baik. Dan tidak terfikir bahwa orang lain akan kesulitan berbicara dengan Izzan. Saya coba konsultasikan masalah ini kepada kepala sekolah. Apakah ada  kemungkinan Izzan bisa naik kelas di level yang lebih tinggi. Namun sepertinya hal ini sulit dilakukan mengingat kemampuan Izzan saat itu. Akhirnya Izzan pun kami keluarkan dari sekolah. Dengan keluarnya Izzan dari sekolah alam, maka saya pun berhenti dari aktivitas rutin di sekolah alam. Meskipun Nanda anak pertama masih sekolah disini hingga setahun kemudian, namun saya hanya sesekali datang.


Pernah saya  membeli sebuah majalah interior  pada pedagang kaki lima di Pasar Simpang. Majalah itu tidak dibuka atau dibaca oleh saya. Kami langsung ke bengkel pencucian mobil. Dua minggu kemudian, kami kembali ke bengkel itu. Saat menunggu, Izzan menunjukkan majalah yang ada dimeja, dan mengatakan bahwa majalah itu milik ibu. Saya sendiri tidak ingat  dan hapal bahwa majalah yang tergeletak itu adalah milik saya.  Izzan ngotot bahwa saya membelinya. Saya berusaha keras mengingat majalah tersebut. Perlahan ingatan saya pulih. Saya membeli sebuah majalah interior dan nampaknya tertinggal dibengkel ini.


Yang saya heran, bagaimana  Izzan bisa ingat kalau itu adalah majalah saya? karena dia sama sekali tidak  melihat dan  membuka-buka majalah itu? Izzan bilang dia tahu karena melihat bagian belakang majalah yang saya beli saat itu. Dan Izzan masih ingat gambarnya!  Izzan yang kecil nampaknya melihat bagian bawah/belakang majalah saat saya menerima dari pedagang. Saat itulah dalam hati  saya sempat terfikirkan. Bahwa Izzan memiliki suatu ingatan visual yang kuat. Sayangnya  kesadaran saya saat itu tidak cukup. Tidak memadai untuk menggerakkan saya meluangkan waktu mengindentifikasi potensi  Izzan lebih lanjut. Saya terhipnotis dengan kesibukan usaha. Tidak peka dengan sedikit tanda-tanda lompatan perkembangan yang Izzan tunjukkan.


 Bandung, 16 Agustus 2011


 Yanti Herawati