Tuesday, September 28, 2010

detikcom : Elpiji Kok Dibuat Mainan

title : Elpiji Kok Dibuat Mainan
summary : Dari beberapa komunikasi di atas, saya semakin yakin bahwa komposisi isi tabung gas elpiji untuk keperluan rumah tangga memang diubah. Dari komposisi semula sekitar 60% Propane dan 40% Butane menjadi 60% Butane dan 40% Propane. (read more)

Saturday, September 25, 2010

kenapa ya, kalo pindah kontrakkan pasti pertama kali yang bermasalah itu pasti mesin pompa air

Buat Kontaktor alias tukang ngontrak rumah kayak saya ini pindah-pindah rumah adalah sesuatu yang wajar, minimal satu tahun sekali anda akan pindah rumah dengan berbagai alasan. Tidak cocok lah,terlalu mahal lah, airnya bermasalah lah, kurang nyaman lha, yang punya kontrakkan ga mau memperpanjang lha.. dan lain sebagainya...


kalo beruntung anda bahkan dapat pindah dua atau tiga kali dalam setahun, dan itu terjadi pada saya dan keluarga. sudah dua kali saya dalam jangka waktu satu tahun harus dua kali pindah rumah.


Kejadian pertama pertengahan tahun 2008, ketika selesai dari Tugas Belajar D4. Pindah rumah karena mau nyari kontrakan yang bulanan dan kebetulan ada temen yang mau over kontrak 6 bulan dengan pertimbangan untuk berjaga-jaga kalo dapat mutasi keluar Jakarta. kan ga perlu repot nyari yang mau over kontrak.Maka jadilah saya pindahan sendiri dibantu dengan teman-teman. ga banyak sih, cuma 1 mobil bak terbuka plus 1 angkot.


Eh, ternyata perkiraan awal ada mutasi setelah tugas belajar berantakan, semuaditempatkan di jakarta... waduhjadi bingung nih, setting awal kan cuma buat shelter sementara menunggu penempatan, lha kalo penempatan jakarta kan harus nyari kontrakkan baru lagi..lagiankontrakkan yang sekarang cuma petakan 1 kamar, sedangkan ponakan ku mau kut ke Jakarta... maka perburuan rumah kontrakkan pun dimulai lagi...


Mencari rumah kontrakkan pun ga semudah beli hape, yang tinggal dateng liat, beli kalo cocok,dan bawa pulang. Nyari Rumah kontrakkan ga beda sama nyari  kucing yang ngumpet di kolong ranjang, diubek-ubek kesana kemari,dapatnya ga terduga-duga.Begitu pula dengan rumah yang satu ini, dapat dari temen yang juga mau over kontrak selama bulan juga... ya sudahlah karena cocok dengan kriteria dan juga mau membantu teman akhirnya kita ambil rumah tersebut.


Nah, kalo sebelumnya saya kan ngontraknya rumah petak yang ga mengurusi sendiri masalah air,kalo yang ini kita ngontrak di rumah yang kamarnya duadan semua harus durussendiri. Kalo sudah begini pasti masalah yang pertama kali timbul adalah masalah air?.


Dari pengalaman sebelumnya waktu mngontrak rumah

Tuesday, September 21, 2010

Term of Usenya MS Silverlight....


 


 


 


 


Membaca Term of Usenya Microsoft Silverlight pasti bikin kepala puyeng, bayangkan hanya untuk plugin multimedia semacam adobe flash saja harus membaca dokumen sebanyak 33.000 karakter lebih.... Kalo ga di baca takutnya nanti melanggar hak cipta dan dipenjara kayak guru-guru di Rusia itu, dan pas dibaca intinya sama dengan semua license nya MSFT, ga boleh ini itu, ini itu... pusssinnngg deh jadinya....


lha yang awam mana mungkin pernah baca yang kayak beginian... dibawah ini.... termasuk saya...


Video editing from the command line

By Silas Brown


This is an article about basic video production in MPlayer. MPlayer has its own "edit decision list" facility, but that is limited to deleting scenes from an already-made movie; it cannot be used to take scenes from more than one source file and to sequence them in a different order, as is often needed in production. However, by running several MPlayer commands in succession you can do this on the command line, and you don't need particularly high-spec equipment or dexterous mouse skills or even eyesight to do it (some eyesight is a plus but you don't need much).



Previewing in MPlayer


Firstly, make sure you can play each of your source-material videos with the mplayer command (use mplayer -framedrop if you have a slow computer). Installing mplayer from your package manager may be enough, but in some cases a newer version of mplayer and/or support for additional types of video codecs is needed; in this case the exact setup procedure can vary, depending on your distribution and its version, so you may have to do some web searching to find out.

Friday, September 3, 2010

Jangan Pakai Linux

February 7th, 2009 Posted in http://idrus.net/2009/02/07/jangan-pakai-linux.shtml


Ya! Buat kamu yang belum pernah mencoba menggunakan sistem operasi yang identik dengan logo pinguin ini, ada baiknya untuk tidak mencoba memakainya! Loh? Kenapa? Berikut beberapa alasan untuk tidak menggunakan Linux.


1. Linux itu susah! Iya itu faktanya. Linux itu susah! Bener-bener susah! Sekali kamu coba memakainya maka akan sulit bagi kamu untuk tidak mengulangi untuk memakainya lagi. Linux bagai candu yang akan membuat pemakainya betah berlama-lama berinteraksi dengannya, dan seringkali memberikan pertanyaan-pertanyaan yang unik dan menarik.


2. Linux itu mainan para hacker! Buat yang merasa dirinya bukan hacker, sangat disarankan untuk tidak memakai Linux. Mengapa? Iya, karena Linux akan membuat kamu mandiri. Hmmm… mandiri? Contohnya? Di Linux, kamu akan menemukan banyak hal baru dan menarik. Kamu akan terus mencoba dan mencoba. Sedikit demi sedikit ‘hack‘ pada sistem operasi ini akan kamu lakukan. Hack? Iya, hack! Terdengar keren dan begitu geek, bukan? Semua itu legal untuk dilakukan di Linux, karena source codenya dengan mudah dapat kamu peroleh, kamu modifikasi, ubah sana, ubah sini, dan menyebarkannya ulang dengan bebas pula, selama tidak keluar dari ruang lingkup General Public License.


3. Linux itu merugikan! Pihak-pihak yang mendukung konsep proprietary software tentulah akan merasa dirugikan. Mengapa? Karena bila semakin banyak pengguna Linux (dan open source) tentu lahan bisnis mereka akan semakin tergerus terus dan terus. Tapi, tidak hanya kerugian dari segi finansial saja yang akan mereka dapat. Melainkan juga ada banyak keuntungan yang akan mereka peroleh, meskipun tidak mereka rasakan secara langsung. Contohnya? Karena software open source tersedia source codenya dengan bebas, maka pengembang software proprietary pun dapat ‘mengintip’ dan ‘mencomot’ beberapa bagian software yang mereka anggap menarik untuk kemudian diintegrasikan ke dalam software komersial mereka. Duh, contohnya masih kurang nih! Oke… oke… Kita ambil contoh Sun Microsystems dengan software office suite mereka yang ternama, OpenOffice dan StarOffice. Hmmm… ada apa dengan OpenOffice dan StarOffice? Sungguh menarik melihat fenomena yang terjadi di sini. OpenOffice dibangun berdasarkan source code StarOffice, lisensi yang disematkan ke OpenOffice ini bersifat open source yang dikembangkan secara gotong royong dengan komunitas yang tersebar di seantero benua di muka bumi ini. Dari hasil pengembangan OpenOffice, Sun Microsystems kemudian mengambil beberapa bagian kodenya untuk kemudian diintegrasikan ke StarOffice dengan ditambahkan beberapa ‘hasil keringat’ ‘orang dalam’ Sun Microsystems. Lisensi StarOffice sendiri bersifat proprietary. Sebuah hubungan timbal balik yang unik dan saling menguntungkan, bukan?


4. Linux itu jelek dan tidak menarik Pernyataan itu tidak salah, namun tidak juga benar. Bila kita melihat Linux secara parsial, yakni hanya kernel/intinya saja tentu pernyataan itu dapat dibenarkan. Apa sih yang bisa dilakukan oleh ‘seonggok’ kernel? Dan meskipun kernel itu bisa dipakai, apa sih yang menarik dari tampilan command line based dengan background hitam dan teks putih saja? Namun bila kita melihat Linux secara keseluruhan sebagai satu kesatuan sistem operasi yang komplit, dengan desktop environment dan lingkungan kerja berbasis GUI (Graphical User Interface) yang indah, kemungkinan kamu akan membantah pernyataan itu. Kasih contoh dong! Oke, mari kita tilik sejenak desktop GNOME atau KDE (atau yang lainnya) dengan Compiz enabled dan setting animasi desktop yang maksimal, saya yakin kamu akan takjub melihat keindahannya. Tidak percaya? Silakan berkunjung ke YouTube dan masukkan kata kunci pencarian “compiz desktop”, tonton salah satu video demonstrasinya.


5. Linux itu membingungkan Amat sangat membingungkan! Itulah perasaan yang akan kamu temui saat pertama kali menatap ‘wajah’ Tux si pinguin ini. Bingung mau memakai distribusi Linux apa, bingung mau pakai software yang mana, bingung untuk menginstal aplikasi apa diantara sekian banyak aplikasi, bingung untuk memilih desktop environment (GNOME, KDE, Xfce, dsb), dan banyak kebingungan-kebingungan lain yang mungkin akan kamu jumpai. Semua itu wajar. Di dunia Linux dan open source, freedom is the will. Saking beragamnya kebebasan yang ditawarkan, maka tidaklah mengherankan bila perkembangan Linux dan software open source pada umumnya dapat dibilang pesat. Belum lagi ditambah dengan kebingungan mau bertanya kepada siapa bila nantinya kamu menemui kendala yang serius dikarenakan saking banyaknya LUG (Linux User Group) baik yang bertaraf lokal maupun internasional yang siap membantu menyelesaikan masalah yang kamu temui.


6. Linux itu mahal Benar sekali! Linux itu mahal! Karena kamu ‘kemungkinan’ akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mendapatkannya. Iya! Semahal satu dua keping CD/DVD blank untuk ‘membakar’ salinan/ISOnya. Juga untuk membayar koneksi internet (bila ada) atau CD/DVD repository (paket software dalam CD/DVD). Kita ambil contoh DVD repository Ubuntu yang dijual di berbagai toko online, harganya berkisar antara 50.000 s.d 100.000 rupiah! Dudududu… mahal sekali… Setuju! Mahal sekali biaya yang harus dikeluarkan demi mendapatkan tambahan paket software free dan open source berkualitas yang super lengkap dan super banyak! Coba bandingkan dengan harga satu lisensi sistem operasi proprietary yang harganya berkisar diatas US$ 100 atau harga lisensi untuk satu software proprietary yang harganya bervariasi mulai dari US$ 19.99 hingga ratusan dollar! Ah, jauh sekali perbedaannya. Linux memang mahal. Ubuntu, melalui program shipitnya menawarkan pengiriman CD Ubuntu gratis ke seluruh penjuru dunia. Namun tidak sepenuhnya gratis! Melainkan mesti membayar ‘semacam pajak yang entah terang atau gelap’ ke Kantor Pos, yang biayanya berkisar antara 5000 s.d 7000 rupiah. Mahalnya… :(


7. Linux itu membodohkan Maksudnya? Begini, betapa ‘bodoh’nya ‘orang-orang itu’, sudah capek-capek membuat program eh… kok malah diberikan begitu saja kepada orang lain, berikut source codenya pula! Tanpa meminta imbalan apa-apa! Logis nggak sih? Melalui tindakan yang ‘bodoh’ itu, para programmer dan mereka yang berkecimpung di dunia open source telah berkontribusi yang tidak sedikit demi kemanusiaan dan perkembangan teknologi informasi untuk masa kini dan masa yang akan datang. Melaui ‘kebodohan’ mereka pula, perkembangan software open source akan semakin cepat karena akan ada banyak orang yang turut berpartisipasi dalam mencari bugs yang mungkin ada untuk kemudian diperbaiki dan dioptimasi serta ditingkatkan fitur-fiturnya. 8. Linux itu berdosa Ya, ‘berdosa’ kepada pengembang software proprietary karena tidak memberikan ‘pemasukan’ ke ‘kantong’ mereka dikarenakan software proprietary buatannya mendapatkan saingan dari software open source yang lebih murah, halal, dan legal dengan fitur yang tidak kalah (bahkan melebihi fitur-fitur yang ada pada software proprietary tersebut). 9. Linux itu menyedihkan Sangat menyedihkan malah, bagaimana mungkin sistem operasi dengan usia yang relatif muda ini mampu berkembang pesat seperti sekarang ini, bahkan berani menghadapi sistem operasi proprietary yang telah dikembangkan jauh sebelumnya dan memiliki pangsa pasar yang tidak sedikit di seluruh dunia. Bila dulu, banyak pihak yang meramalkan IBM OS/2 adalah sistem operasi masa depan, namun kenyataannya sekarang sungguh berbeda, OS/2 telah ‘down’ (bila tidak ingin dikatakan ‘mati’). Mari kita lihat bagaimana perkembangan Linux beserta software-software open source lainnya beberapa tahun kedepan. — Yup, diatas adalah beberapa alasan yang cukup logis untuk tidak memakai Linux. Sekarang terserah kepada kamu, masih mau memakai Linux?


— Catatan:


* Tulisan diatas hanyalah sebuah pemikiran bodoh dari penulis yang hanya seorang lamer yang tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa. Mohon maaf bila ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan di hati para pembaca dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun.


* Inspirasi yang mendasari penulisan artikel nyeleneh ini: http://ndorokakung.dagdigdug.com/2009/01/27/jangan-percaya-enda-nasution/


* Tulisan ini juga pernah dimunculkan di Kaskus.


* Buat yang terkecoh dengan tulisan ini, silakan baca; Menjebak Persepsi Awal Pembaca dengan Judul dan Satire.


SUMBER : http://idrus.net/2009/02/07/jangan-pakai-linux.shtml