Friday, March 26, 2010

CRP 1 Combine Meeting, GR, PM, CM, MOSA

Hari ini jumat tanggal 26 Maret 2010 diadakan Conference Room Pilot (CRP) 1 dalam rangka pengembangan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) dihadiri oleh PIC Direktorat TP, serta para Functional Consultants dari LG CNS yaitu :




  1. dari PIC:



2. FC LG CNS




Tapi yang dibahas berbeda beda, masing masing membahas masalah berbeda yang terkait dengan modul yang mereka tangani. Modul MOSA lagi membahas format DIPA yang banyak jenisnya di kaitkan dengan fitur standar yang ada di dalam Oracle Finance (Orafin) -yang akan menggantikan aplikasi-aplikasi yang selama ini digunakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan DJA.


Modul Payment dan Government Receipt lagi membahas setoran pengembalian belanja yang dilakukan oleh satker melalui bank persepsi, bagaimana perlakuannya nantinya, jurnal dan akun yang digunakan apa. Cukup  membingungkan karena pada dasarnya masuk melalui Modul Penerimaan Negara (MPN) dan dicatat dalam modul GR tetapi pada dasarnya merupakan transaksi yang ada pada modul Payment dan terkait dengan MOSA karena mengembalikan belanja dan mengembalikan kembali pagu DIPA  sebesar jumlah yang dikembalikan ke kas negara.


Modul CM, selesai lebih dahulu jadi tidak sempat merekam apa saja yang terjadi.


CRP 1 hari ini selesai hampir jam 18.00 dan dilanjutkan esok hari. sungguh pekrejaan yang cukup melelahkan dan harus melalui dari satu pertemuan ke pertemuan yang lain.


Wednesday, March 17, 2010

Transformasi Perbendaharaan

Direktorat Jenderal Perbendaharaan sekarang bak menjalani siklus metamorfosis seekor kupu-kupu, dari telur, menetas menjadi ulat, terus , bertapa dalam kepompong sampai akhirnya menjadi seekor kupu-kupu. Belum tentu indah, karena tidak semua kupu-kupu setelah bermetamorfosis menjadi indah. Ada beberapa yang malah menjadi sangat menyeramkan bagi beberapa makhluk, tergantung jenis dari kupu-kupunya.


Begitu juga dengan Ditjen Perbendaharaan, metamorfosisnya dimulai sejak tahun 2004 dengan disahkannya paket undang-undang pengelolaan keuangan negara yaitu UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, serta UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara. Ditjen Perbendaharaan adalah metamorfosis dari Ditjen Anggaran yang ditambah dengan fungsi BAKUN dan Pusat Manajemen Obligasi Negara, serta memisahkan fungsi perencanaan menjadi Ditjen Anggaran dan Perimbangan Keuangan (DJAPK). Tetapi, ini hanyalah bentuk sementara dari Ditjen Perbendaraan karena pada tahun 2008 dilakukan reorganisasi dan memisahkan beberapa fungsi dari Ditjen Perbendaharaan yaitu fungsi Pengelolaan Utang di jadikan satu Ditjen yaitu Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, serta menggabungkan fungsi pengelolaan Kekayaan Negara kedalam Ditjen Kekayaan Negara. Ibarat kupu-kupu ini adalah bentuk antara entah  itu ulat, ataupun itu kepompong.


Tidak berhenti sampai reorganisasi ke dua saja, dibentuk pula satu direktorat baru di dalam struktur organisasi Ditjen Perbendaharaan yang khusus bertugas untuk melakukan metamorfosis tugas dan fungsi Ditjen Perbendaharaan dalam bentuk Proyek Bussiness  Process Improvement yang didukung oleh sistem informasi perbendaharaan yang baru yaitu Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN).


Fase ini adalah fase kepompong bagi Ditjen Perbendaharaan, karena dengan pengenalan sistem informasi baru ini, akan mengubah secara radikal cara bekerja para pegawai di lingkungan Ditjen Perbendaharaan. Sehingga, seperti halnya kepompong yang belum tentu menjadi kupu-kupu yang cantik, bisa juga menjadi ngengat yang jauh dari cantik, atau kupu-kupu gajah yang besar dan menakutkan menurut saya, perubahan ini juga memiliki risiko kegagalan yang tinggi.Akan tetapi, jika perubahan wujud kepompong menjadi kupu-kupu ditentukan oleh gen masing-masing jenis, maka keberhasilan transformasi di Ditjen Perbendaharaan sangat dipengaruhi oleh komitmen bersama tiap-tiap pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan dalam mendukung perubahan yang diharapkan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Komitmen tersebut dapat dibangun jika masing-masing pegawai memiliki visi dan misi  yang sama dalam implementasi sistem informasi dan proses bisnis yang baru ini.


Kesamaan visi dan misi mustahil tercapai apabila tidak ada pengenalan dan meneruskan pesan perubahan ini kepada seluruh pihak-pihak yang terkait, yaitu pegawai, satuan kerja yang dilayani serta, pihak  lain yang menjadi masukan maupun menerima keluaran dari Ditjen Perbendaharaan.  Dengan demikian, peran Change Management and Communication sangat penting dalam menggalang dukungan dan mencapai kesamaan visi dan misi dalam menyelesaikan pekerjaan besar ini.


Dengan demikian, metamorfosis Ditjen Perbendaharaan sangat tergantung pada keberhasilan meneruskan pesan-pesan perubahan ini kepada stakeholder, serta kesamaan komitmen mampu digalang dan mendukung perubahan ini.